Loading...

Jakarta 15 Agustus 2020, pagi yang cerah hati yang damai mengiringi niat aku bertemu dengan mbah putri tercinta yang jauh di sana. Jakarta – Pemalang biasanya aku lalui dengan kereta atau bus umum. Namun saat ini aku ingin sekali pergi naik motor. Selain mencoba pengalaman baru, kayanya seru aja gitu naik motor bisa mampir - mampir ke tempat-tempat seru. Perjalanan pagi ini diawali menuju kota bekasi dari Jakarta Selatan. Aku nekad melakukan perjalanan panjang tidak sendirian. Aku bersama Hari. Karena kondisi lalu lintas sedang sepi, cukup 40 menit saja aku sampai di Bekasi. Dari Bekasi, perjalanan masih panjang.

Dari bekasi sampai ke Cikampek cuma satu setengah jam. Dari Cikampek harus menempuh perjalanan panjang lagi menuju Subang, Indramayu dan Cirebon. Awalnya perjalanan panjang naik motor itu seru, namun lama kelamaan jenuh dan mulai mengeluh “kok nggak sampai - sampai sih”.

Kami sempat kesal dengan tanda penunjuk arah dari indramayu ke cirebon. Papan penunjuk arah pertama yang kami temukan cirebon 78 km lagi. Selang kami berjalan sudah satu jam lebih, kami menemukan papan penunjuk arah lagi bahwa cirebon 96 km lagi. Kesal, sebal dan ketawa – ketawa kami rasakan. Kok bisa malah bertambah panjang dan jauh ya, kami dibuat bingung sama papan penunjuk arah. Selama perjalanan panjang di Indramayu, itu terik panas sangat terasa lalu bercampur dengan angin pantai utara yang gersang dihiasi bau-bau garam yang dijemur bercampur dengan bau ikan asin yang dijemur pula. Rasanya nano-nano bikin pusing dan mual.

Jam 14.00 hampir 3 jam an perjalanan dari Indramayu akhirnya sampai di Cirebon juga. Dan kotanya asyik. Banyak sekali bangunan kuno dengan aksen bangunan bangunan candi. Memang yang aku ingat bahwa cirebon ini terkenal dengan sebutan kota sunan & kerajaan. Karena banyak kerajaan dan kasepuhan peninggalan daerah ini. Tapi sayangnya aku tak punya banyak waktu untuk berkunjung ke situs sejarah kota Cirebon. Oh.. iya kalau lewat Cirebon non tol, jangan kaget ya kalau menemukan titik kemacetan di dekat pasar Batik Trustmi. Katanya sih batik ini yang paling terkenal seantero Indonesia.

Namun sayangnya para pembeli yang membawa kendaraan pribadi seenaknya memarkir kendaraan roda empatnya di pinggir jalan. Selepas dari Cirebon, kami memasuki Brebes, kotanya telur asin. Sepanjang jalan pemandangannya adalah bawang merah & tumpukan telur asin. Dari Brebes kami bertolak ke tegal. Kota Tegal jauh lebih modern dari kota Brebes. Lantaran di Tegal terdapat dua mall besar yang sangat terkenal. Mall ini menyerupai mall di Jakarta. Besar, komplit dan tentunya menjadi tempat hiburan utama bagi warga sekitar. Kalau sudah masuk ke wilayah tegal sudah lega rasanya karena sekitar satu jam lagi aku dan hari tiba di rumah mbah putri.

Perjalanan dari Tegal ke Pemalang cuma 45 menit masih dengan trek jalanan raya Pantura. Pukul 16.30 kami tiba di Pemalang, kota kecil yang punya banyak cerita buat aku. Namun dari Pemalang, untuk sampai di rumah mbah putri masih 40 menit lagi. Perjalanan ini yang sangat aku senang. Melewati hutan pinus yang sangat rapat, menelusuri trek perjalanan naik turun berliku, kanan kiri sawah & hutan jati.

Sampai akhirnya kami tiba di pasar bantar Bolang buat mengisi perut sejenak sambil istirahat. Aku memilih makan nasi ayam bakar yang cuma Rp28 ribu berdua. Nasi, ayam bakar, sate kulit, lalapan, dan esteh manis. Mantap jiwo banget kan, makan enak harga murah perut kenyang. Jam 18.00 akhirnya tiba di rumah mbah putri. Kami pun disambut hangat dengan hati penuh kerinduan.

Jakarta 16 Agustus 2020. Rasa lelah, pegal masih sangat terasa, namun antusias aku untuk pergi jalan-jalan meruntuhkan rasa lelah. Setelah kami siap untuk bergegas, kami pamit pergi untuk jalan-jalan. Rute pertama yang akan kami tempuh yaitu jalan raya Randudongkal – Belik. Kami berencana ingin berwisata ke Goa Lawa. Terakhir kali aku mengunjungi Goa Lawa saat masih berusia 10 tahun dan kini hampir 19 tahun lamanya baru datang lagi berwisata ke Goa Lawa. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan yang elok rupawan.

Jalanan yang berkelok kelok naik turun, di kanan ku persawahan warga yang hijau, di kiri ku perkebunan nanas warga dan terlihat gunung Mendelem dengan gagahnya yang banyak menyimpan cerita sakral dan mistis. Konon gunung Mendelem ini terkenal dengan tempat pemujaan yang dapat mengabulkan berbagai macam munajat mereka. Namun doanya bukan langsung kepada Tuhan YME, melainkan percaya dengan ritual pemujaan terhadap pohon, batu, atau tempat keramat di wilayah gunung mendelem tersebut. Dan keinginan mereka biasanya itu tentang kekayaan, asmara, tahta dan penglaris. Banyak persembahan mereka dikabulkan, banyak pula persembahan mereka ditolak. Ada beberapa dari mereka yang persembahannya ditolak berakibat gila, sakit, bahkan mati.

Selama 40 menit perjalanan yang sangat mendebarkan, lantaran jalanan berkelok tiba-tiba kabut turun dengan syahdunya membuat kami terlena ngantuk di perjalanan. Tugu selamat datang di goa lawa menyambut kami. Protokol kesehatan di tempat wisata ini sangat apik disaat masa pandemik seperti ini. Ada tempat cuci tangan lengkap dengan sabun dan tisu. Pemeriksaan suhu tubuh, area wajib bermasker, serta tata aturan yang wajib dipatuhi selama berwisata di goa lawa. Tiket masuknya hanya Rp.25 ribu saat weekend, untuk weekdays hanya Rp20 ribu.

Goa Lawa ini terletak di wilayah Purbalingga Jawa Tengah. Pemandangan rerumputan hijau dan hamparan bunga menyambut kami dengan harumnya. Goa Lawa Purbalingga merupakan jejak sungai lava jutaan tahun lampau yang mengendap membentuk stalgmit dan stalagtit. Ini semua terbentuk oleh alam, tidak ada campur tangan dari manusia. Panjang nya sekitar 1,5 km. Goa lawa terbentuk dari batuan vulkanik yang terbentuk dari lava pegunungan. Lava tersebut berasal dari letusan gunung slamet purba. Kawasan goa lawa berada di jalan raya goa lawa km 3 desa Siwarak karangreja Purbalingga. Goa lawa sejauh ini di identikan dengan goa kelelawar. Karena hawanya yang lembab dan dingin, dulu nya memang banyak sekali kelelawar bahkan ada satu area yang sangat mirip seperti dada kelelawar.

Goa ini sangat unik karena di Indonesia hanya terdapat di Purbalingga dan Bali. Masyarakat setempat percaya pada legenda goa Lawa pada zamannya kerajaan majapahit yang menceritakan selamatnya penyiar agama Islam yaitu Ahmad dan Mohamad yang pada saat itu berkejaran dengan kerajaan majapahit. Dari zaman dahulu sampai saat ini, selain goa lawa sebagai tempat wisata juga sebagai tempat untuk bermunajat memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Fasilitas di wisata ini cukup lengkap. Ada camping ground dengan fasilitas tempat tidur dengan tenda, outbound seru, dan tempat guling-guling. Serunya karena terdapat taman hijau dengan rumput yang tertata rapi cantik sekali.

Yang sangat menarik dari goa ini adalah adanya cafe di dalam goa. Namanya Lava Coffee shop. Menyediakan kopi dan minuman hangat lainnya berkisar harga Rp5.000 sampai Rp25 ribu yang andalannya adalah kopi arabikanya. Tersedia pula makanan ringan seperti mendoan, roti bakar, cireng dan lainnya dengan harga Rp10 ribu sampai Rp20 ribu saja. Bagi saya harganya sangat cocok dengan pemandangan dan suasana yang belum pernah saya rasakan. Ada live musiknya pula dengan petikan gitar akustik. Tempatnya sendiri berbatasan langsung sama batu-batu dinding goa, sehingga ada beberapa batu yang mengeluarkan setetes air dan gemericik air. Syahdu banget andaikan waktu masih banyak aku betah banget nongkrong di sini.

Lava Coffee Shop, kafe di dalam Goa Lawa

Goa ini sudah banyak mengalami perubahan. Mulai dari jalanannya yang dulu awalnya masih tanah sekarang sudah peluran semen & dibuat tangga berundak-undak, sisi goanya pun dihiasi lampu sorot dengan berbagai macam warna merah, biru, hijau, kuning, ungu dan sebagainya membuat cantik dinding–dinding goa saling berpantulan. Ketika tersorot ke dinding goa dan berkesan sakral dan mistis. Beberapa spot juga dihiasi lampu teplek seperti lampu petromak dengan warna lampu kuning bernuansa sangat magis. Kadang bulu kuduk pun dibuat merinding berkali-kali. Namun ketakjuban saya terhadap isi goa ini memadamkan rasa takut saya untuk terus penasaran menelusuri goa lebih dalam lagi.

Keindahan stalagtit dan stalagmit didalam goa dengan pancaran lampu

Goa Lawa mempunyai beberapa goa yaitu: Goa Ratu Ayu, konon di dalam goa ini ada dua orang wanita cantik yang memiliki tiga ekor binatang kesayangan, yaitu harimau putih, harimau hitam dan harimau kuning. Banyak warga setempat yang sering melihat harimau kesayangan milik Ratu Ayu berkeliaran di daerah desa. Goa cepet, atau artinya cepet adalah mahluk halus. Dahulu beberapa kali ada warga yang hilang selalu ditemukan di goa ini. Orang yang masuk goa ini juga sering tersesat dan sukar keluar. Goa ini memiliki beberapa lobang yang bisa tembus ke goa lain, hingga goa ini dinamakan goa cepet.

Goa Langgar, goa ini dahulunya digunakan oleh wali songo untuk melakukan ibadah. Hingga saat ini sering digunakan orang lain untuk melakukan doa bersama atau bermunajat memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. Goa waringin seto, dinding batuan yang bentuknya mirip sekali dengan pohon beringin berwarna putih. Penamaan ini menggambarkan bentuk pohon beringin mulai dari daun hingga bentuk batangnya. Waringin seto merupakan pohon kehidupan yang memberikan perlindungan dan pengayoman.

Goa Lorong panembahan, Lorong sepanjang 10 meter ini sering digunakan prang-orang untuk melakukan semedi. Diantaranya untuk meminta jodoh, kelancaran rejeki, langgeng dalam jabatan dan lain-lain. Biasanya orang yang bertapa di goa ini pada malam-malam tertentu seperti malam selasa kliwon dan jumat kliwon. Selain itu lorong ini juga sempat digunakana untuk dipakai pameran peragaan busana dan akustikan music bersama penyanyi ternama Marcel. Pancuran slamet dan Sendang drajat, pancuran air ini tidak pernah kering. Konon siapa saja yang mencuci muka dengan air yang mengalir dari pancuran ini akan awet muda dan wajahnya  kelihatan berseri-seri. Sendang drajat diyakini bisa membuat siapa saja yang meminum air dari mata air ini akan dipermudah dalam mencari rejeki, bisa mempunyai keturunan bagi pesangan suami istri yang sudah lama menikah tapi belum dikarunia anak dan enteng jodoh bagi yang belum mempunyai pasangan. Pancuran sendang drajat ini dahulu sering digunakan oleh Sunan Drajat untuk mandi dan mengambil air wudhu.

Balai pertemuan agung adalah goa yang digunakan oleh wali songo mengadakan pertemuan dalam menyebarkan agama islam di tanah jawa. Di goa ini memiliki ruangan lebar yang memiliki Sembilan batu besar menyerupai meja. Goa dada lawa,  goa ini merupakan keajaiban alam yang hanya ada di Purbalingga dab satu-satunya di Indonesie berbentuk relief dada kelelawar raksasa yang sedang membentuk sayapnya. Ketika berada disini aku merasakan hal mistis yang luar biasa, dari awal masuk sampai keluar serasa ada yang mengintai dan selama ada disana bulu kuduk aku tak berhenti merinding. Hari pun tak ingin lama-lama berada disana, namun aku masih saja terpesona dan penasaran. Namun karena semakin membuat tubuh gemetaran, kaki pun diajak melangkah sudah sangat berat sehingga aku dan Hari memutuskan untuk permisi pergi. Dan terakhir adalah Batu semar, batu berbentuk secara alami mirip dengan ujud tokoh semar.

Salah satu view dari tangga menuju ke panggung panembahan

Istana Lawa = Istana Kelelawar

Sendang Drajat dan Pancuran Slamet

Kurang lebih 2 jam aku menelusuri goa ini. Ketakjuban dengan keindahan yang membuat ku terpana merasa terus penasaran ingin menguliknya lebih jauh, ingin menelusurinya sampai ujung. Siapa tahu ada yang mengajakku untuk susur goa, wah aku sangat tertarik sekali. Karena aku yakin beberapa Lorong goa di sini itu banyak menyimpan cerita dan banyak sekali jalan atau ruang goa yang belum terjamah. Oh iya, setelah Lelah keluar dari dalam goa, pengunjung wisata akan di hibur dengan band musisi yang berada di panggung plaza goa Lawa. Mereka membawakan lagu-lagu dangdut yang sedang trend saat ini tentunya dengan cengkok dan bahasa Jawanya. Salah satu lagu-lagu mereka adalah milik Alm. Didi kempot dan Cak nan yang membuat para pengunjung ikut berdendang dan berjoget bersama. Diselingi kabut tipis yang turun menambah kesyahduan sore itu.

Pemalang 17 Agustus 2020 jam 01.30 aku dan Hari melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang ke Jakarta. Rasanya belum bisa move on dari eksplore wisata Pemalang. Banyak sekali tempat indah disana. Dari mulai bukit, kaki pegunungan, pantai, goa dan curug nya semua indah dan alami sempurna. Perjalanan kami pulang dari Pemalang ke Jakarta memakan waktu 12 jam karena banyak istirahatnya di jalan. Resiko perjalanan tengah malam dingin bercampur ngantuk. Berkelana kali ini adalah pengalaman yang paling mengesankan. Perjalanan jauh hanya dengan motor memberikan arti kesabaran dan mengalah dengan ego kita sendiri. Bagaimana harus pergi dengan selamat dan pulang dengan selamat dalam keadaan utuh. Yeaaaaay, Terimakasih semesta “AKU BAHAGIA”

 

Nama Penulis: Yustiana Firda Apriani

Instagram: fidhariani_

Twitter: Fidha_riani

Facebook: fidhaa

Press Enter To Begin Your Search
×