Loading...

(photo source: dokumentasi pribadi)

“Bulan ini pergi kemana lagi, Vin?”

Itulah celetukan yang paling tidak pernah saya dengar tahun ini. Maklum, planning traveling satu tahun makjegagik harus batal karena pandemi covid-19. Tahun ini pun menjadi momen dimana saya merasa aneh melihat jatah cuti saya yang masih utuh hehe.

Meskipun saya bekerja di bidang media dan tidak mengenal tanggal merah—saya selalu terkenal dengan ‘Si Jatah Cuti Cuma Sedikit’. Sebab saya selalu mengunakan cuti saya untuk dipepetkan dengan jatah libur, lalu traveling ke luar atau dalam negeri.

Planning besar saya tahun ini sebenarnya ada 4 lokasi: Kupang, Milan, Reykjavic, dan New York. Sungguh planning yang sangat ambisius—mengingat saya dapat harga tiket promo yang sangat murah. Namun semua trip tersebut batal karena berbagai alasan yang berhubungan dengan pandemi. Alasan seperti maskapai membatalkan penerbangan, negara tujuan belum membuka akses turis dari Indonesia, dan negara tujuan penyebaran Covid-19-nya lebih parah dari Indonesia. Ampun dah.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Suatu kehilangan yang sangat, bak ibu-ibu ketinggalan diskon baju lebaran—itulah yang saya rasakan saat ini. Sebab saya masih sangat terbayang destinasi favorit saya seumur hidup, yakni Reykjavic di Islandia. Saya tidak pernah lupa akan udara bersih nan dingin merasuki hidung. Udara yang sedikit beku namun segar, saya rasakan dari ujung hidung hingga paru-paru. Rasanya udara yang saya hirup seakan menetralisir paru-paru kotor saya yang sudah terlalu lama menghirup polusi ibukota. Tak pernah lupa dinginnya terpaan angin malam karena menunggu Aurora Borealis yang lewat hanya 2 menit, lalu hangatnya sup krim bercampur lobster di central park Reykjavik, Americano hangat di kafe yang juga toko buku, serta nongkrong di kafe Italia dekat Hallgrimskirja yang saya malah ditinggal oleh pemiliknya untuk bergosip dengan toko sebelah—padahal kalau mau saya tinggal lari tidak bayar juga bisa.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Semua detail pengalaman itu muncul saat saya menikmati kopi sore di kala pandemi. Sebuah misi untuk kembali ke Islandia yang harus tertunda karena keadaan. Namun kenapa sih selalu Islandia? Memang ketika saya sharing dengan teman-teman pelancong, sering saya mendapatkan sindiran kenapa jalan kesana lagi kesana lagi. Saya kerap dibandingkan dengan kawan yang sudah mengunjungi 60 lebih negara dan lain-lain. Bagi saya jumlah negara itu memang menarik, namun tidak menentukan kualitas individu saat berpergian. Ketika kita sangat attached dengan satu negara dan kita mengeksplor kota-kota di negara tersebut, kita pun bisa menjadi seorang eksplorer—terlebih kita bisa menemukan hidden gems di lokasi tersebut. Pun ada pelancong yang berfokus mengeksplor destinasi di Indonesia—mereka pun tetap adalah traveler. Nah, orientasi saya lebih kepada membaur dan menemukan kultur yang bisa dipelajari dan diaplikasikan di tanah air.

 Saya merasa bahwa Islandia sebagai salah satu negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia, memiliki filosofi hidup minimalis dan mudah bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki saat ini. Itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan negara ini—setelah Indonesia. Mimpi saya adalah mengeksplor kota lain di Islandia, seperti Akureyri dengan gereja terkenalnya yakni Husavik, lalu Akureyrarkirkja, atau desa di utara bernama Raufarhofn. Memang kalau orang dengar, terkesan anti mainstream atau cenderung nekat. Namun bagi saya, itu adalah pengalaman yang tidak kita temui di Indonesia.

 Mungkin anda pun pernah merasakan perasaan seperti saya, yakni perasaan ketika kita duduk sendiri di kursi taman yang sepi, lalu tetiba kita merasa sedikit panik karena berada di puluhan kilometer atau belahan dunia yang berbeda dari rumah—tapi kita menikmati feeling lost tersebut, Itulah yang paling saya rindukan dari perjalanan.

Mendengarkan lagu penyanyi lokal Islandia yang ada di platform streaming lagu, menyaksikan tayangan video klip Eurovision dari kontestan dari Islandia, dan menyaksikan kembali vlog-vlog amatir saya—itulah cara-cara saya bisa mengobati kerinduan saya akan Islandia. Namun terima kasih juga dengan perjalanan saya dulu ke Islandia, saya jadi terbiasa untuk mengenali nama atlet asal sana yang berakhiran dengan ‘Son’ untuk anak laki-laki, dan ‘Dottir’ untuk anak perempuan. Simpel yah? Tapi kalau diterapkan di Indonesia, mungkin sudah jadi bahan panggilan waktu SD hehe.

(photo source: dokumentasi pribadi)

Harus saya akui ketika awal pandemi ini membuat saya bete karena seluruh rencana berantakan bahkan batal. Namun pepatah orang Islandia plus orang Jowo yakni: Selalu ada ‘untung’ dibalik peristiwa, itulah yang saya lihat dari pandemi ini. Saya bisa menghemat dan saving lebih banyak untuk tabungan jalan-jalan saya tahun depan (jika pandemi mereda, dan Travel Restriction dilonggarkan), merencanakan itinerary yang lebih matang, dan lebih bersyukur dalam perjalanan saya kelak. Kenapa saya menuliskan lebih bersykur? Sebab selama ini saya mengaggap bahwa setiap momen saya pergi selalu ada masa dimana saya tidak menikmatinya karena satu dan lain hal. Baru kemudian pandemi menyerang dan kita terkungkum, barulah saya merindukan momentum itu.

Lebih bersyukur di perjalanan pesawat yang bisa memakan waktu satu hari, bersyukur hanya ada beberapa restoran chinese food disana, bersyukur dengan keramahan orang disana, bersyukur bisa menikmati hari disana meski toiletnya hanya bertissue (saya tim semprotan), dan bersyukur atas momentum kita bisa kembali ke Indonesia dengan aman.

Bagi saya, traveling bisa memiliki tujuan yang lebih dari sekadar bersenang-senang, namun kita bisa lebih mengenal diri kita dengan maksimal, dan menjadi versi lebih baik dari sebelumnya.

Amin! Semoga pandemi segera usai, dan kita bisa jalan-jalan lagi.

 

Penulis: Nicholas Marvin

Instagram: @marvin.sulistio

Twitter: @marvinsulistio_

Press Enter To Begin Your Search
×