Loading...

Sungai Citarik

(photo source: dokumentasi pribadi)

Menjadi orang yang beruntung merupakan kebahagiaan. Saya merasakan hal itu kala mendapat undangan sebuah operator wisata. Diundang sebagai travel addict bersama teman-teman satu profesi menambah kegairahan tersendiri. Kebahagiaan itu saya peroleh karena dipilih menjadi peserta night rafting (arung jeram di malam hari), bukan siang hari sebagaimana lazimnya. Menjadi momen tak terlupakan berikutnya karena diselenggarakan pada pergantian tahun 2011-2012 silam.

Double keberuntungan ini bukan tanpa alasan. Aktivitas sungai pada saat pergantian tanggal 31 Desember menuju 1 Januari itu benar-benar bersahabat. Cuaca sangat mendukung aktivitas arung jeram di malam hari. Meski bulan tidak sempurna, tetapi bintang-bintang bersinar tanpa dihadang awan. Betul-betul cerah. Kegiatan berwisata unik dan seru ini sangat berbeda dengan kebanyakan agenda wisata lainnya.

Faktanya memang momen ini sangat langka. Bayangkan, dari 2012 sampai awal tahun kemarin, 2020, sungai Citarik sebagai track arung jeram, tidak pernah bersahabat lagi. Syarat pengarungan pada malam hari tidak boleh lebih dari 80 centimeter debit air. Sementara, untuk pengarungan siang hari maksimal 90 centimeter. Artinya, saya betul betul beruntung kala itu. Tidak ada lagi pengalaman yang sama sampai tahun ini. Mungkin juga beberapa tahun ke depan. Debit arus sungai dan cuaca awal tahun, selama delapan tahun terakhir, tidak mendukung aktivitas arung jeram. Apalagi malam hari.

Sungai Citarik

(photo source: dokumentasi pribadi)

Sungai deras, panorama alam yang sejuk dan indah, selalu menjadi daya tarik manusia. Namun, tidak selalu panorama indah itu saya rasakan di pagi dan petang. Malam pergantian tahun, melihat sungai Citarik yang cukup deras, membuat hati saya takjub. Angin dari empasan arus sungai yang tiba-tiba datang mengembus badan, menambah gelora keberanian. Awalnya memang terkesan manakutkan karena penuh risiko. Namun, saya dan teman-teman dikawal pemadu arung jeram yang profesional. Demi pengalaman yang luar biasa, tidak perlu takut lagi.

Saya dan peserta night rafting lainnya telah berpakaian lengkap dengan peralatan untuk berarung jeram. Kami dibawa ke hulu, sebagai start pengarungan, menggunakan beberapa truk seperti menuju ke atas gunung. Naik gunung menggunakan truk dengan jalan bergelombang saja sudah membuat peserta wanita ramai-ramai memekik suara.

Jarak yang ditempuh truk pembawa peserta menuju start pengarungan kurang lebih 5 kilometer. Artinya, tidak berbeda jauh dengan track sungai Citarik yang akan saya arungi. Saya sempat membayangkan, berapa jam saya berada di perahu rafting itu dengan kejutan empasan arus yang penuh bebatuan. Kemungkinan juga perahu bisa terbalik atau tersangkut batu. Membayangkannya saja sudah memacu adrenalin. Rasa takut menghantui. Namun lagi lagi, demi pengalaman yang langka ini, harus tetap berani.

Bermodalkan pencahayaan alam atau refleksi cahaya dari langit, ditambah peralatan head lamp dan phosphor stick, menambah kesan tersendiri bagi saya. Sebanyak 40 perahu karet diterjunkan demi memanjakan para peserta yang haus tantangan dan pengalaman. Setiap perahu diisi 4 sampai 5 peserta dengan 2 pemadu bersertifikasi internasional.  

Sungai Citarik

(Photo source: dokumentasi pribadi)

Waktu itu saya kebagian perahu rafting yang ke 35. Saya kembali takjub melihat panorama kegiatan wisata ini. Saya melihat dari kejauhan peserta yang telah turun mengarungi sungai. Indahnya bukan main. Sungai yang terletak di Kabupaten Sukabumi ini seperti dijelajahi kunang-kunang yang menari di atas derasnya arus. Indah dengan warna-warninya. Sampai akhirnya saya tiba di finish pengarungan dengan waktu 2 jam lebih sedikit. Wow. Lumayan pegal dan lelah tetapi tidak terasa.

Saya bersyukur selamat melintasi derasnya arus. Meski ada insiden satu teman di perahu saya sempat terjatuh. Untung saja saya memegang bajunya dan pemadu dengan sigap menariknya kembali ke atas perahu. Mengarungi sungai dengan arus deras tak pelak membuat pakaian yang saya kenakan basah kuyup semua.

Kegiatan night rafting yang dimulai pukul 9 malam hingga 1 pagi ini, dilanjutkan dengan pesta kembang api setelah bersalin dengan pakaian kering. Saya dan para peserta disiapkan penginapan berpola saung-saung dengan latar belakang sawah alami milik masyarakat setempat. Area penginapan terletak di delta sungai dengan pemandangan sawah dan bukit di atasnya.

Tidak terasa hari demi hari berlalu. Rafting di malam hari pada momen pergantian tahun terkesan baru kemarin saya rasakan. Sampai detik ini masih terekam dalam ingatan saya. Barisan kunang-kunang yang menari di atas derasnya arus sungai Citarik yang indah itu.

 

Penulis: Debi Abdullah

Instagram: @debiabdullahroy

Facebook: Debi Abdullah Roy

Press Enter To Begin Your Search
×