Loading...

 

Foto: Pixabay.com

Travelling, sebuah kata yang sering kita dengar, tapi tidak semudah itu mewujudkannya. Kenapa ? karena banyak orang pada saat ini melihat sosial media dan tertarik untuk berkunjung ke suatu tempat, tetapi pada akhirnya hanya wacana saja. Kok bisa? karena bagi sebagian orang yang terpikir dari travelling adalah menghamburkan uang dan menghabiskan waktu saja. Belum lagi kondisi pandemi saat sekarang, ada rasa kuati dan cemas untuk bepergian ke luar daerah, yang tentu saja semakin memupus impian orang untuk bepergian. Sebagian orang lainnya, travelling sudah merupakan kebutuhan dan gaya hidup, bagaimana bisa? Setelah disibukkan dengan pekerjaan rutin beberapa lama, sebulan atau setahun, maka otak butuh penyegaran, sementara alternatif penyegaran otak adalah melalui travelling.

Buat saya, travelling harus menjadi sangat memorable, kenapa? karena dengan memiliki kenangan akan perjalanan yang kita lakukan, secara tidak langsung kita juga telah melakukan investasi memori dan investasi kebahagiaan. Secara otomatis, traveling bisa dianggap sebagai hal yang menyenangkan, walaupun tidak semuanya berujung kebahagiaan. Salah perencanaan akan perjalanan yang akan kita lakukan justru akan membuat bencana pada saat travelling, boleh-boleh saja traveling dilakukan tanpa perencanaan matang atau bahkan tanpa perencanaan sama sekali, tetapi artinya kita juga mempertaruhkan waktu dan materi kita untuk sesuatu yang tidak pasti.

Foto: Pixabay.com

Travelling impian saya di masa pandemi seperti ini adalah sebuah perjalanan santai. Kita ketahui bersama bahwa pandemi yang sudah berjalan hampir 6 bulan ini, menyebabkan dampak yang tidak sedikit, salah satunya adalah sepinya pariwisata nasional. Hal tersebut secara nyata terlihat dari banyak tempat wisata yang sudah buka dalam panduan era new normal tetap saja sepi pengunjung. Kondisi seperti ini sedikit banyak merubah cara kita untuk melakukan travelling, apabila sebelum pandemi, karena ramainya tempat wisata sehingga orang berpikir cukup mengambil foto di tempat wisata tersebut tapi pada era saat ini kita bisa benar-benar menikmati apa yang ada di tempat wisata tersebut. 

Bayangkan saja kondisi Bali yang saat ini sepi, kita bisa “tidak melakukan apa-apa “ atau dalam bahasa kekinian “mager” di hotel saja, menikmati fasilitas hotel yang ada, apalagi didukung oleh suasana Ubud yang sangat kembali ke alam, tentu saja hal ini akan menjadi pelipur lara keinginan untuk bisa bepergian di saat pandemi seperti ini. Menikmati sarapan pagi di kolam renang yang sering kita kenal dengan floating breakfast, melakukan yoga, melakukan tracking di Bukit Campuhan, bahkan mungkin untuk pertama kalinya kita bisa merasakan Bali tanpa melewati malam-malam di club dengan musiknya yang hingar bingar.

Foto: Pixabay.com

Kembali ke alam, mungkin salah satu tema yang akan saya ambil pada travelling kali ini, merasakan Bali dengan budayanya, berbaur dengan warga lokal, mencicipi makanan otentik Bali yang tentu saja berdampak meninggalkan kenangan mendalam yang menjadi investasi kenangan dan kebahagiaan untuk saya. Lebih jauh tentu saja saya akan merasakan kesegaran dan mendapatkan kembali tenaga untuk kembali beraktivitas, menjalankan rutinitas dan kepenatan menjalani kehidupan di tempat asal. 

Bali adalah rumah kedua buat saya, walaupun sudah berulang kali ke Bali, tetapi daya magis Bali selalu membawa saya untuk kembali ke pulau ini. Pesona pura, keramahan warganya dan budayanya yang sangat kental merupakan pesona tersendiri yang semakin menarik saya untuk kembali dan kembali ke Pulau Bali. Berharap perjalanan impian saya terwujud melalui RedDoorz Travel Stories.

Penulis: Seno Prasetyo

Instagram: @prasetyojimenez

Facebook: Prasetyo Jimenez de Santibanez

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×