Loading...

(sumber: foto pribadi/thuluwmuhlisromdloni)

Saya suka naik gunung sejak masuk usia sekolah SMP. Gunung pertama yang saya taklukkan adalah Gunung Lawu. Pendakian pertama yang sukses. Mencapai puncak dan melihat matahari terbit untuk pertama kalinya. Pengalaman yang tiada dua. Melahirkan kesan mendalam hingga di kemudian hari, saya selalu menyempatkan mendaki di waktu-waktu libur sekolah. 

Kegiatan pendakian saya, kebanyakan saya lakukan bersama teman-teman sebaya. Banyak cerita seru, suka dan duka selama melakukan pendakian bersama mereka. Namun lambat laun, saya mulai berpikir, jika pengalaman menarik selama pendakian itu menjadi hal yang “tidak adil” bagi saya, saat saya menyadari saya juga punya keluarga, punya kakak dan adik. Di mana mereka selama ini paham dengan kesukaan saya mendaki, mereka kenyang dengan cerita-cerita pendakian saya, tanpa saya pernah berpikir, mungkin mereka sebetulnya juga ingin merasakan apa yang saya rasakan. Cuma saya tak peka dan mereka sungkan untuk bicara.

Maka, didasari prinsip “berbagi pengalaman seru jangan melulu bersama teman-temanmu, kamu punya keluarga yang layak mendapat kesempatan yang sama” saya memutuskan memberanikan diri mengajak dua adik saya mendaki.

Kenapa saya bilang memberanikan diri? Sebab, saya nekat membujuk rayu adik bungsu saya, Jihan, yang saya kenal sangat manja, cengeng, dan ngambekan. Apalagi dia masih duduk di kelas 5 SD waktu itu. Tentunya selain membujuk Jihan agar mau diajak mendaki, saya juga harus merayu orang tua agar memberikan izin.  Setelah berusaha meyakinkan orang tua, dan membius Jihan dengan cerita-cerita seru selama di gunung, akhirnya misi pendakian terbayang sudah di pelupuk mata.

Gunung Merapi yang terletak di kab. Boyolali menjadi tujuan pendakian saya bersama Jihan dan Zuhud, adik laki-laki saya yang terpaut dua tahun. Zuhud saya ajak agar dia bisa mengimbangi saya dan membantu banyak hal selama pendakian, sebab ada sosok gadis mungil kelas 5 SD yang akan melakukan pendakian pertamanya, yang sudah pasti butuh pengawasan esktra.

Pada tanggal 6 Mei 2013, kami bertiga berangkat dari Solo ke basecamp Merapi di desa Selo menggunakan kendaran motor.  Sekitar pukul 12 siang kami tiba di basecamp Merapi.  Saat itu suasana basecamp tidak terlalu ramai. Setelah istirahat sejenak dan melakukan regristasi, pendakian pun di mulai dengan target sebelum magrib, sudah sampai di Pasar Bubrah. Pasar Bubrah adalah lokasi di ketinggian 2.600 MDPL dimana banyak pendaki mendirikan tenda sebelum melakukan summit ke puncak. Tempatnya yang luas dan relatif datar, menjadi spot favorit pendaki untuk bermalam. Rencananya kami akan camp di Pasar Bubrah, dan melanjutkan summit ke puncak di subuh hari.

Diawali dengan doa dan tekad, kami bertiga mulai melangkahkan kaki meninggalkan basecamp. Siang itu cukup terik, namun angin gunung membuat suasana menjadi sejuk. Kami berjalan dengan tempo yang cukup lamban, menyesuaikan ritme langkah Jihan. Demi menjaga semangat gadis kecil itu, saya terus “mengoceh” agar tidak ada keheningan yang kadang membuat mood jadi drop.

Saya kadang berusaha melucu, bertanya ini dan itu baik kepada Jihan maupun Zuhud, berseru-seru menyemangati seperti perwira yang berusaha mengobarkan semangat pasukannya. Dan tentunya mengumbar “janji-janji palsu” khas anak gunung, misalnya saja menyampaikan kepada mereka bahwa perjalanan ke tempat tujuan sudah semakin dekat, puncak sudah makin deket, pos demi pos sudah dekat. 

Meski berusaha menjaga tekad dan optimisme, jujur saja di hati terdalam, saya menyimpan kekhawatiran. Terutama melihat  Jihan yang masih terlalu labil. Kadang dia terlihat semangat, namun tak jarang dia mengeluh. Saya pastinya paham dengan kondisinya, terlebih ini pendakian pertamanya.  Saya pun tidak akan memaksakan kehendak, misal adik bungsu saya itu benar-benar menyerah.  Maka, demi mengantispasi kemungkinan-kemungkina buruk, saya dan Zuhud harus mengalah dan menuruti apa saja maunya Jihan, selama gadis kecil itu masih mau meneruskan perjalanan.

Alhasil, karena ritme berjalan yang bisa dibilang cukup lamban. Banyaknya istirahat, keseringan break meski baru melangkah beberapa saat. Maka estimasti pendakian pun melesat jauh dari perencanaan. 

Hari sudah sore, kabut-kabut tipis turun dan menghalangi jarak pandang. Suasana sekitar semakin sunyi, hanya suara ranting pohon saling bergesekan karena tersentuh angin. Saya bergumam dalam hati, bahwa mencapai Pasar Bubrah sebelum matahari tenggelam sudah pasti menjadi hal mustahil.

Satu hal yang membuat saya bersyukur, Jihan masih terlihat bersemangat. Meski dia sedikit bicara, sedikit senyum, dan air mukanya  datar-datar saja. Lama-lama saya bisa memaklumi harus melewati waktu yang lebih lama dari biasanya. Asal “satu nyawa” yang menjadi tanggung jawab saya itu kondisinya baik-baik saja. 


(sumber: foto pribadi/thuluwmuhlisromdloni)

Tidak terasa hari mulai gelap. Saat itu kami baru sampai di pos 2 yang dinamakan Watu Gajah. Pasar Bubrah masih perlu dicapai kurang lebih satu jam dengan kondisi berjalan normal. Dan sudah pasti memakan waktu lebih lama karena patokan kami adalah Jihan yang tidak bisa berjalan secepat dua kakaknya. Kami istirahat di balik bebatuan besar yang melindungi dari terpaan angin yang mulai kencang dan dingin. Jihan mulai menggigil. Merapatkan jaket putihnya yang sudah tak karuan lagi warnanya. Saya memutar otak, mencari keputusan apakah harus lanjut atau tidak.

Akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pasar Bubrah. Tempat di mana kami istirahat tidak memungkinkan untuk mendirikan tenda. Tidak ada tanah lapang yang datar. Meskipun keputusan untuk lanjut juga menjadi awal permasalahan kami bertiga. Sebab senter yang kami bawa cuma satu! Bukan apa-apa, karena memang tidak merencanakan melakukan perjalanan malam, alhasil kami tidak prepare dengan ketersediaan senter. 

Malam itu, langit berbintang menjadi teman perjalanan. Kerlap-kerlip lampu kota nun di kejauhan memanjakan kedua mata. Angin dingin menyuarakan desir di telinga. Rasa damai menyusup di dada. Sesuatu yang selalu sama jika berada di tengah-tengah semesta. 

Dikarenakan senter  cuma satu. Maka formasi berjalan pun tidak bisa senormal biasanya.  Saya harus berjalan menanjak terlebih dahulu beberapa langkah, lantas berhenti dan berbalik arah. Lalu mengarahkan senter ke bawah memberi penerangan untuk Jihan dan Zuhud. Meski terlihat ribet, menurut saya ini yang paling aman dan efektif. Saya sempat kewalahan karena jalur pendakian sudah berubah total dari setapak landai  dengan kanan kiri pepohonan, kini berubah menjadi trek terbuka dan menanjak, sementara kabut mulai turun dan angin yang semula sepoi-sepoi perlahan berubah kencang.

Badai datang. Tak lagi bisa dielakkan. Pasar Bubrah masih harus dijangkau kurang lebih satu jam. Meski hati kecil saya mulai ciut. Saya tidak mungkin menampakkan kekhawatiran, sementara saya bertanggung jawab kepada dua adik saya. Saya berusaha meyakinkan mereka bahwa semua akan baik-baik saja. Saya mengingatkan mereka agar lebih hati-hati dan mawas, sebab badai membuat tubuh kami terhuyung, sementara kabut membatasi jarak pandang, dan di trek ini sama sekali tidak ada tempat yang layak untuk berlindung.

Kerlip lampu-lampu di kejauhan seperti padam, pun dengan bebintang di langit malam. Yang tertangkap mata cuma gumpalan kabut dan cahaya senter. Saya berkali-kali mengingatan agar terus berdoa. Agar dihindarkan dari marabahaya sebab saat itu cuma ada kami bertiga. Tak ada pendaki lain yang kami temui. Entah harus meminta tolong ke siapa jika kami dalam ancaman bahaya.

Sekitar satu jam kami bergelut dengan badai. Fisik yang mulai lelah. Hati yang dipenuhi was-was. Akhirnya bisa diredakan saat cahaya senter menerangi sebuah papan bertuliskan “Pasar Bubrah”, saya spontan berteriak, menyemangati kedua adik saya yang masih di bawah. Meminta mereka bergegas naik, karena tempat yang diimpikan sudah di depan mata.

Rasa syukur tercurah tiada henti sebab kami bertiga akhirnya sampai di Pasar Bubrah dengan selamat. Meski bukan tujuan terakhir sebab besok masih harus summit ke puncak. Setidaknya kami bisa mendirikan tenda dan bermalam dengan sedikit lebih nyaman di Pasar Bubrah.

Dengan badan menggigil, saya dan Zuhud mendirikan tenda sementara Jihan hanya  bisa terduduk sambil memeluk kedua lututnya. Selepas tenda berdiri. Lagi-lagi kabut turun, membuat gundukan pasir vulkanik yang menjadi jalur menuju puncak Merapi hilang dari pandangan. Angin kencang kembali setelah beberapa saat tadi pergi. Kami buru-buru masuk tenda. Di dalam tenda yang koyak karena badai, kami berusaha memejamkan mata. Sementara hati dipenuhi doa-doa.

Percayalah, malam yang terasa panjang adalah malam saat berada di tengah-tengah gunung. Fisik lelah, namun mata tak mau rapat terpejam. Apalagi dengan kondisi cuaca tak bersahabat, dan pikiran dipenuhi kekhawatiran. Jarang-jarang saya bisa agak stress selama di gunung, kecuali saat itu karena saya membawa si bungsu yang baru mengenal “sisi lain” dari gunung, mungkin di benaknya dia protes, cerita-cerita indah saya “tak terbuktikan”. Namun saya berjanji, esok hari akan menjadi sesuatu yang menyenangkan saat melihat garis fajar di ufuk. Dan awan yang berundak-undak membuat langit terang. Belum lagi lautan awan bak kapas putih yang menggemaskan. Semua akan membayar letih lelahnya perjalanan.

Esok pun tiba. Dan semua ekspektasi seperti berhamburan di udara. Kami bangun subuh hari sementara angin masih bertiup sangat kencang, membuat bentuk tenda kami koyak ke kanan ke kiri. Matahari terbit tertutup mendung. Puncak Merapi yang gagah kadang muncul kadang  terhalang kabut. Rasa lapar melilit perut. Dan terpaksa kami harus memasak di dalam tenda yang menyebabkan alas tenda berlubang karena kelalaian memakai kompor!

(sumber: foto pribadi/thuluwmuhlisromdloni)

Menimbang satu dua hal, saya memutuskan untuk tidak melakukan summit. Cuaca sangat tidak mendukung. Puncak saja lebih sering terlilit kabut meski kadang cerah. Angin di atas sana pasti tidak karuan berbahaya.  Terlebih lagi dari Pasar Bubrah ke puncak Merapi trek jalannya berupa pasir.  Jika tidak dalam kondisi cerah, alangkah baiknya memang tidak memaksakan summit.

Dalam pendakian, puncak memang bukan tujuan utama. Sebab tujuan utama adalah kembali pulang  ke rumah dengan selamat. Syukur-syukur kembali dengan pengalaman dan pembelajaran baru. Karena sudah berhasil menaklukan ego, berhasil melawan rasa takut, berhasil melalui rintangan, dan lebih dari itu semua, berhasil menjadi pribadi yang lebih cinta kepada Tuhan yang Menciptakan alam yang sangat indah.

Saya bersyukur, meski tidak dapat menaklukan puncak, perjalanan dari bawah sampai Pasar Bubrah bisa dibilang lancar tanpa aral melintang. Yang paling seru pastinya saat malam hari menempuh jarak menuju Pasar Bubrah. Senter cuma satu. Dan diamuk badai. Sementara kondisi trek terjal berupa bebatuan vulkanik yang licin dan tidak stabil. Mungkin karena doa dari orang tua, Tuhan masih memberikan perlindungan-Nya. 

Sekitar pukul 8 pagi kami berkemas. Melipat tenda. Mengencangkan tali ransel. Matahari nyaris tidak menampakkan diri. Badai belum mau berhenti. Dan tidak satupun ada pendaki lain yang kami temui. Sebelum meninggalkan Pasar Bubrah, saya menepuk pundak Jihan, bilang bangga padanya. Gadis kecil kelas 5 SD yang manja, lempeng, ngambekan, bisa juga menaklukan gunung paling aktif sedunia, bisa melewati badai yang bahaya, bisa menjaga api semangat sehingga tidak memilih berhenti dan berputus asa.

Saya berjanji, akan mengajak Jihan menaklukan Merapi suatu hari nanti. Biar dia bisa berdiri gagah di puncak. Saya juga berjanji mengajaknya ke gunung-gunung lain, dan di hari-hari mendatang, dengan izin Tuhan, Jihan di usianya yang masih dibilang sangat muda, telah berhasil menakluka gunung Lawu, Sindoro, Merbabu, Prau, dan tentunya Merapi yang saat ini belum tertaklukan. Semua bermula dari perjalanan bersama saya, kakaknya yang galak ini, yang ingin berbagi keseruan dan pengalaman yang biasa dilalui bersama teman-teman, bisa dirasakan juga untuk orang-orang terdekat, orang-orang yang justru harus lebih diutamakan.

Perjalanan ke Gunung Merapi ini adalah salah satu perjalanan paling berkesan bagi saya. Sebab saya nekat membawa satu nyawa yang masih “kosong”, sama sekali awam dengan alam bebas. Dan langsung dihajar dengan kondisi cuaca tak bersahabat. Pendaki lain mungkin tidak akan mau ambil resiko dengan mengikutsertakan anak perempuan yang notabene manja dan lemah. Namun dengan kedewasaan sikap dan komitmen untuk mengenalkan keluarga pada alam bebas, semua bisa dilalui. Justru ini menjadi medan saya melatih arti kesabaran, mengasah kedewasaan, dan kecermatan dalam  membuat keputusan.

Sesampai di rumah, Ibu langsung memeluk Jihan. Seolah-olah terpisah bertahun-tahun, Ibu mendekap tubuh mungil bungsunya sambil bercerita kalau semalaman Ibu tidak mampu memejamkan mata. Terus kepikiran dengan kondisi anak-anaknya. 

Penulis: Thuluw Muhlis Romdloni

Instagram: romi88.indonesia

Facebook: Thuluw Muhlis Romdloni

Press Enter To Begin Your Search
×