Loading...

Ombak besar terus mengamuk menghempaskan diri, bergantian kiri dan kanan menerpa kaca. Kala di kanan serasa tenggelam digulung maha dahsyat airnya, begitu juga ketika dia datang dari sebelah kiri, seperti mau melahap habis kapal yang sedang saya tumpangi ini. Seluruh penumpang juga sudah hampir tampak tumbang. Bahkan pelayan mini resto kapal di depan sana juga sudah terangguk-angguk di balik maskernya. Saya masih mencoba berdamai dengan badan, walau sudah tidak jelas lagi rasanya seperti apa. Semua campur aduk. Dibawa tidur, duduk, merem, berdoa, balur minyak, minum, ngemil, tidak satu pun yang mempan. Segala upaya sudah saya lakukan untuk tetap tenang. Tapi keganasan ombak Laut Cina Selatan ini sungguh keterlaluan. Tidak tahan, akhirnya saya sempoyongan menggapai toilet. Menuju wastafel bertuliskan “Tempat Muntah”. Mengeluarkan semua isi perut yang dikocok karena penyeberangan laut selama 7 jam ini.

Tepat menjelang jam 4 sore, saya akhirnya turun kapal dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di daerah garda terdepan Indonesia, Kepulauan Anambas. Gila memang perjalanan saya kali ini. Datang ke tempat antah berantah, wanita, seorang diri dan tanpa tempat tujuan bahkan kenalan. Banyak yang mengernyitkan perjalanan saya kali ini, dan bertanya, “Di mana itu Anambas?”

Ya, mungkin namanya belum terlalu dikenal bahkan sekalipun bagi masyarakat satu provinsi, Kepulauan Riau. Ketika transit di Batam, bertemu dengan seorang yang sudah bermukim bertahun-tahun di Batam, terperangah ketika saya mengatakan akan melanjutkan perjalanan ke Anambas. “Oh saya baru tahu (dari kamu) itu Anambas,” ucapnya pada saya. Meski minimnya informasi saya tetap berangkat, karena tekad saya sudah bulat untuk mengenal lebih dekat serpihan surga yang jatuh di kepulauan yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura ini.

Lalu apa yang membuat saya tertarik untuk melakukan perjalanan solo ke Kepulauan Anambas?  Apa saja yang telah Anambas suguhkan kepada saya sehingga membuat petualangan ini menjadi berkesan? Ini dia beberapa hal yang berhasil memikat hati dan menentramkan jiwa saya ketika berada di Anambas:

1. Jemaja

Merupakan salah satu pulau utama dari 255 pulau yang tersebar di Kepulauan Anambas. Sore itu kapal cepat ferry yang saya tumpangi merapat di sini, di Pelabuhan Letung, Pulau Berhala. Di pulau ini saya menetap selama 4 hari. Menginap di Penginapan Miranti dengan resto menghadap laut andalannya, lalu menjelajahi keindahan daratan Pulau Jemaja.

Beberapa objek wisata darat yang bisa dikunjungi di sini antara lain pantai dengan garis terpanjang di Kepulauan Riau yaitu Pantai Padang Melang. Lalu desa yang identik dengan bentangan sawah, Desa Bukit Padi, Desa Kuala Maras, dan Air Terjun Neraja, sebuah air terjun yang mengalir melewati bebatuan bertingkat dan bermuara ke sebuah kolam alami.

2. Siantan

Beranjak dari Jemaja saya melanjutkan penyeberangan ke pulau terbesar di Kepulauan Anambas, yaitu Pulau Siantan. Di pulau ini jugalah terdapat ibukota Kepulauan Anambas, Tarempa. Sebab itu pulau ini terasa lebih “hidup” dan riuh dibandingkan Jemaja. Beberapa keindahan alam yang dapat dijamah di sini antara lain; Air Terjun Temburun, Pantai Pasir Manang, Masjid Jamik Baiturrahim, Vihara Gunung Dewa Siantan, dan Arung Hijau. 

3. Pulau-Pulau Andalan Anambas

Namanya kepulauan tentu saja jagoan dari wisata Anambas adalah baharinya. Tidak diragukan lagi, kepermaian bawah laut Anambas juga berhasil membuat decak kagum dan kegirangan saya tiada berkesudahan. Snorkling di sekitaran bibir pantai saja sudah disuguhi dengan biota laut yang beragam. Sungguh spektakuler.

Pulau Ipan dan Pulau Tulai, contohnya. Dua pulau ini saya jelajahi ketika berada di Letung. Berikutnya Pulau Lango, Tenggiling dan Rengek, tiga pulau menjadi spot snorkling saya ketika berada di Tarempa. Semua pulau ini berhasil menyuguhkan keindahan tersendiri. Baik pantai apalagi habitat bawah lautnya.

4. Kearifan lokal

Faktor kenyaman dan jatuh hati terhadap suatu daerah yang didatangi menurut saya adalah terlihat dari keramahan masyarakatnya. Itu juga yang membuat saya jatuh cinta pada Anambas. Walau datang jauh-jauh dan tidak mengenal siapa pun di Anambas ternyata tidak menjadi kesulitan yang berarti bagi saya untuk berbaur dengan masyarakat setempat. Sambutan mereka yang hangat membuat saya merasa tenang dan aman serta ingin berlama-lama di sana. Satu pengalaman unik yang paling berkesan bagi saya adalah ikut behari raye (berlebaran) di rumah seorang warga yang saya tidak kenal. Datang, salam-salaman, makan-makan dan pulang. Pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan.

Bagaimana, tertarik untuk ke Anambas? Sebelumnya perhatikan dulu ya beberapa poin di bawah ini agar liburan ke Anambas menjadi cerita memori indah yang berkesan:

Cara Menuju Anambas

Pilihan transportasi menuju Anambas hanya ada 2, jalur laut atau udara. Jika memilih opsi laut, bersiaplah menghadapi ganasnya ombak Laut Cina Selatan jika cuaca kurang bersahabat. Pelayaran bisa dimulai dari Tanjung Pinang menggunakan kapal cepat ferry dengan durasi pelayaran 5-7 jam. Namun jika memilih opsi yang kedua, bisa menggunakan pesawat terbang dari Bandara Hang Nadim Batam dengan tujuan Bandara Letung dengan maskapai Wings Air. Atau jika hendak ke Tarempa terlebih dahulu bisa dari Bintan menuju Matak dengan pesawat Xpress Air

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Musim kemarau tentu saja pilihan waktu terbaik untuk berkunjung ke Anambas. Karena sudah pasti targetnya mau melaut, kan? Jadi pastikan untuk mengecek kondisi cuaca terlebih dahulu. Jika datang di musim hujan tentu saja ombak besar di mana-mana dan akhirnya tidak dapat menikmati keindahan bawah lautnya yang memesona.

Sewa Speed Boat untuk Hopping Islands

Mungkin inilah salah satu kendala kalau bertandang ke Anambas seorang diri. Karena untuk eksplor pulau-pulau dan snorkling harus menggunakan speed boat. Jadi perlu penyikapan budget untuk sewa speed boat. So, sebaiknya datanglah secara rombongan agar bisa sharing sewa speed boat.

Jarangnya Transportasi Publik

Untuk eksplorasi daratan sewa motor adalah solusi terbaik. Karena bisa saya bilang tidak ada sama sekali transportasi umum yang bisa mengantarkan dari satu destinasi ke destinasi berikutnya. Rata-rata roda dua adalah transportasi utama di Anambas.

Pesta Kuliner

Yang satu ini jangan sampai terlewatkan. Menyicipi hidangan laut segar ketika berada di Anambas. Sotong adalah salah satu favorit saya selain Mie Tarempa. Makan Mie Tarempa di Tarempa, adalah wajib hukumnya. Selain itu juga ada nasi lemak, nasi dagang, dan kerupuk atom.

Meski pertarungan lautan Anambas hampir membuat saya tumbang, tapi sejauh pengembaraan saya keliling Indonesia, Anambas punya cerita yang sangat melekat di hati. Berada di garda terdepan perbatasan Indonesia, Anambas terus berkembang dengan segala potensi yang dimilikinya. Jika di timur Indonesia ada Raja Ampat, barat Indonesia punya Anambas sebagai jargon wisata baharinya. Pesona bawah lautnya yang epik, ragam wisata darat yang menarik dan kearifan lokal yang tersemat menjadikan Anambas lirikan ranah surga yang mengagumkan.

 

Nama Penulis: Wilda Hikmalia

Instagram: Wilda Hikmalia

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×