Loading...

(Foto: Pixabay.com)

Siapa bilang traveling yang seru itu harus bersama banyak orang? Justru dengan traveling sendirian, perjalanan baru ini bakal bikin kita jadi lebih mengenal diri sendiri, lebih fleksibel, lebih berkesan dan nggak banyak drama loh. Kita bisa bebas menentukan rute, destinasi wisata, tempat makan dan lain sebagainya tanpa perlu bingung dan beradu argumen karena nggak cocok pilihannya antar satu orang dengan yang lain.

Memang traveling sendirian itu cukup menegangkan, terutama untuk pemula, tapi jangan salah loh, traveling sendirian itu jadi tantangan seru tersendiri dan beneran bisa membuka cara pandang kita yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya dan pastinya bikin nagih. Terlebih kalau tempat yang dituju adalah tempat baru bagi kita. Ga percaya? Yuk simak ceritaku berikut ini! 

Perjalanan solo traveling (melancong sendirian) sekaligus my very first abroad trip ini bertujuan ke negara Singapura, yup negara tetangga kita. Alasanku memilih negara tersebut karena jaraknya nggak terlalu jauh, tingkat keamanannya tinggi, multicultural, kebersihan tempat terjamin, banyak destinasi wisata menarik dan nyaman untuk dikunjungi bagi para pelancong (khususnya wanita), bahkan untuk solo traveler pemula juga. Dan selain itu, alasan berikutnya karena tarif tiket pesawat pun cocok banget untuk pelajar kayak aku gini (banyak maskapai yang sering nawarin promo). 

Sebenarnya, rencanaku untuk solo traveling ini udah ada di benak pikiran sejak kelas 10 SMK (umur 15 tahun). Tapi dulu masih ragu-ragu karena aku pun masih belum punya paspor dan KTP saat itu, sampai suatu hari dari pihak sekolah memberi kabar kalau bakal ada student exchange ke Thailand atau Australia, barulah aku bikin paspor karena aku sangat antusias buat ikutan, tapi sayangnya student exchange itu batal.  Alhasil, pasporku nganggur setahunan. Sampai akhirnya usiaku sudah menginjak 17 tahun dan masa cuti semester 4 (kelas 11 SMK) tiba, aku memantapkan diri untuk melakukan solo traveling setelah banyak pertimbangan dan setelah melakukan riset kecil-kecilan.

Bandung – Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Perjalanan dimulai dari kota asalku, Bandung. Dari Bandung – tepatnya Pasteur, aku naik shuttle dengan tujuan bandara internasional Soekarno-Hatta. Aku pilih penerbangan dari bandara internasional Soekarno-Hatta karena pilihan waktu penerbangan lebih banyak dan lebih terjangkau dari segi tarifnya dibandingkan dari bandara internasional Husein Sastranegara saat itu. Privilege pertama yang aku dapatkan dari solo traveling ini adalah more space, more peace. Kenapa aku bilang begitu? Karena ketika naik shuttle, aku duduk sendiri, jadi nggak begitu bising tuh – cocok banget kan suasananya buat tidur, bisa simpan barang juga di seat sebelah kalau lagi pengen, jadi bangun-bangun udah mau sampe bandara aja .

Perjalanan ini memakan waktu sekitar 5 jam, bisa dibilang lumayan cepat karena untungnya aku pilih waktunya tengah malam jadi nggak kejebak macet parah saat di perjalanan menuju bandara. Sesampainya di bandara, aku sempet bingung tuh karena kan masih sekitar jam 5 subuh (masih agak ngumpulin nyawa) dan kebetulan juga lapar, jadilah aku cari makan dulu. Sehabis itu langsung bersih-bersih di toilet bandara dan lanjut cetak boarding pass

Sekitar jam 7 pagi, boarding gate untuk tujuan Singapura sudah dibuka, aku langsung sesegera antre untuk pengecekan tiket pesawat dan pengecekan tas. Ketika pengecekan tiket pesawat, aku sempat ditanyai tentang keberadaan orang tuaku, karena tadinya dianggap masih seperti anak SMP (mungkin karena aku nggak berperawakan tinggi). Sampai-sampai petugas bandara mengira kalau satu keluarga yang sedang antre di belakangku itu adalah keluargaku. Malu pastinya, tapi untungnya urusan itu cepat selesai. Ketika sudah berada di dalam pesawat, aku merasa sedikit takut, rasa takut itu tiba-tiba muncul.

Tapi aku tetap menenangkan diri dan percaya kalau aku bakal bisa sampai tujuan dengan selamat. Rasanya aneh, menegangkan juga seru karena aku bisa duduk diantara dua orang asing yang sama-sama bakal pergi ke negara orang lain untuk pertama kalinya. Oh iya, sebelum turun dari pesawat, aku diharuskan untuk mengisi embarkation card (kartu keberangkatan) yang dikasih oleh mbak Pramugari. Jadi, selalu sediakan pena tinta hitam dan buku kecil (untuk alas kartunya - opsional) ya!

Singapura 



Bandara Internasional Changi (sumber : dokumentasi pribadi)

The real journey has started! Rasanya benar-benar luar biasa karena berhasil mewujudkan salah satu rencana terbesarku. Aku berhasil menginjakkan kakiku di negara orang lain sendirian! Hasil nabungku ga sia-sia ternyata haha. Ketika sampai di bandara Changi, aku langsung diharuskan untuk mengisi arrival card (kartu kedatangan) untuk diperiksa pihak imigrasi bandara. Setelah itu, aku langsung disambut hangat oleh petugas imigrasi bandara Changi itu dan disemangati karena berani traveling sendirian di usia muda haha.

Setelah lolos dari imigrasi bandara, aku langsung mencari free water dispenser – ya, sesuai namanya, ini adalah dispenser air yang gratis. Bisa digunakan untuk menghemat budget nih, lumayan banget. Pastikan bawa botol tumblr sendiri ya karena di Singapura banyak semacam free water dispenser, jadi pastinya bisa meminimalisir pengeluaran traveling hehe.

Lanjut, aku membeli Singapore Tourist Pass (STP) - kartu MRT yang diterbitkan khusus untuk tourist supaya bisa naik MRT atau bus umum untuk periode waktu tertentu (tergantung pilihan masing-masing), waktu itu aku pilih khusus untuk 3 hari. Awalnya aku sudah memberitahu petugas yang menjual STP itu bahwa aku akan membeli yang biasa, tapi entah kenapa malah diberikan yang STP plus - apa boleh buat, karena aku ga suka memperpanjang masalah, jadi aku harus mengeluarkan sedikit uang ekstra untuk itu. 

Menuju Tempat Menginap

Aku melanjutkan perjalananku dengan bus bandara dengan tujuan Terminal 2  tempat di mana Changi airport MRT station berada. Lalu aku naik MRT untuk menuju ke tempat menginap. Pada kesempatan ini aku pilih hostel agar bisa melatih diri untuk berkomunikasi dengan orang-orang baru, juga melatih diri agar mandiri – hampir semuanya self-service. Sampailah di hostel, dan langsung melakukan proses check in (booking dan pembayaran sudah dilakukan secara online).

Selama tiga hari aku melakukan solo traveling, aku sudah pergi ke Armenian Church, Merlion Park (Icon Singa yang tersohor), Esplanade, Orchard Road (terkenal dengan Uncle’s Ice creamnya), Singapore Botanic Garden, Kampong Glam, Bugis Street, Buddha Tooth Relic Temple and Museum, dan masih banyak lagi. 

Salah satu destinasi yang aku sangat rekomendasikan untuk para calon solo traveler–Singapore Botanic Gardens. Ambil waktu pagi hari kalau mau ke sana, karena cuacanya masih sejuk dan belum terlalu banyak orang. Tempatnya luas, bersih, nyaman dan indah. Sangat cocok untuk jogging, atau sekedar eksplorasi untuk menenangkan diri atau melepas penat. Banyak tumbuhan yang jarang kita temui di Indonesia, juga banyak satwa liar, jadi harus tetap berhati-hati. 

Singapore Botanic Gardens (sumber : dokumentasi pribadi)

Bisa saling berbagi cerita dengan traveler dari berbagai belahan dunia

Selain karena destinasi-destinasi wisatanya yang seru, aku juga mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan ketika menginap di salah satu hostel yang ada di Singapura, yaitu aku bisa ketemu banyak traveler lain dari berbagai penjuru dunia, bahkan di suatu pagi ketika aku mau sarapan, aku duduk bersama dua orang laki-laki asing. Mereka berdua ramah tetapi tetap fokus pada urusan masing-masing. Sampai akhirnya, ada seorang perempuan yang datang ke pantry dan meminta tolong sesuatu dan dari yang tadinya cuma niat bantuin, eh malah jadi asik sharing juga haha. Jujur, untuk aku pribadi, hal-hal kayak gini itu bener-bener berkesan. I wish I could back to that good old time. Jangan takut salah ngomong bahasa Inggris ya, practice makes perfect!

Enaknya solo traveling juga nih, bisa nyoba local street food sepuasnya

Inilah salah satu tempat makan yang sangat direkomendasikan – Maxwell Food Centre. Di sini sistemnya self-service, jadi setelah selesai makan, kita harus mengembalikan peralatan makan secara mandiri ke tempat penjual makanannya. Jangan sampai kelupaan, dan tetap jaga kebersihan ya!



Salah satu hawker food stall di Maxwell Food Centre (sumber : dokumentasi pribadi)

Di tempat ini bisa nemu banyak local hawker food yang enak-enak dan harganya terjangkau. Favoritku adalah Popiah alias semacam Lumpia kalau di Indonesia. Harganya $2.80 aja. Dan buat aku, porsinya itu cukup gede, yum!

Bittersweet Journey

Dibalik semua keseruan perjalananku ini, aku juga mengalami beberapa kejadian yang beneran bikin aku deg-degan dan lebih berhati-hati. Salah satu kejadiannya yaitu aku sempat ketinggalan pesawat untuk penerbangan kembali ke Indonesia karena aku sempat kesasar beberapa kali dan jadi telat sampai bandara. Beruntung aku bisa dapat new flight untuk besok harinya dengan tarif yang cocok sama dompetku, walaupun harus rela menginap semalaman di bandara internasional Changi sendirian. Alhasil, solo traveling kali ini agak melenceng dari itinerary haha. 

Well, that was absolutely challenging yet unbelievable! Kapan lagi punya pengalaman semenegangkan dan semenarik itu di negara orang lain kan?! One mistake doesn’t stop me! Banyak pelajaran berharga yang bisa aku ambil. Kalau boleh aku bilang, mungkin tanpa ngerasain itu semua, aku nggak mungkin bisa seberani dan sekuat ini sekarang. Struggle makes me stronger!

Semoga ceritaku bisa menginspirasi semua kaum muda yang pengen traveling sendiri tapi takut untuk memulainya! Don’t wait any longer, just go! Collect moments, not things! Ciao.

Penulis: Amelia Wahyuningtias

Instagram: amelia_w2706

Press Enter To Begin Your Search
×