Loading...

banda neira

(photo source: dokumentasi pribadi)

Momen pergantian tahun merupakan waktu spesial bagi beberapa orang. Ada yang merayakannya dengan pergi ke pusat kota untuk melihat kembang api, atau berkumpul bersama teman dan keluarga di rumah sambil makan-makan, dan ada juga yang pergi liburan, salah satunya adalah aku. Tahun baru 2020 lalu aku memutuskan untuk mengambil cuti tahunanku dan pergi berlibur ke Banda Neira selama satu minggu. Banda Neira adalah salah satu destinasi wisata yang berada di Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Banda Neira merupakan surga bagi wisatawan yang ingin diving, snorkeling, atau sekedar hanya ingin refreshing dan menikmati pemandangan laut, karena di Banda suasananya masih asri dan dunia bawah lautnya yang sangat indah. Sebenernya sudah lama banget pengen pergi ke Banda, tapi berhubung sibuk kerja, akhirnya baru dapet kesempatan waktu akhir tahun lalu.

Sebelum berangkat ke Banda, aku pesan tiket pesawat terlebih dahulu dengan langsung pergi ke Bandara Pattimura, Ambon. Oh, ya, saat ini aku berdomisili di Kota Ambon, jadi untuk pergi ke Banda sangatlah mudah. Ada beberapa opsi untuk transportasi bagi RedTraveler yang ingin berlibur ke Banda. Apabila kamu tinggal di luar Provinsi Maluku, sudah pasti harus ke Kota Ambon terlebih dahulu menggunakan pesawat. Dari Ambon, bisa menggunakan kapal cepat yang berangkat dari Pelabuhan Tulehu, dan ini memakan waktu sekitar 6 jam menuju Banda.

Untuk harga tiketnya mulai dari Rp400 ribu per orang. Opsi kedua, bisa naik kapal Pelni yang berangkat dari Pelabuhan Yos Sudarso. Untuk kapal Pelni memakan waktu yang lumayan lama yaitu sekitar 10-13 jam, tapi harga tiketnya jauh lebih murah daripada kapal cepat yaitu Rp105 ribu per orang. Lalu opsi terakhir ini untuk RedTraveler yang mabuk laut dan ingin menghemat waktu, bisa pergi dengan menggunakan pesawat perintis. Ini paling recommended, karena hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit saja untuk menuju ke Banda.

Harga tiket juga tidak terlalu mahal karena sudah mendapat subsidi dari pemerintah, dari sekitar Rp1 juta menjadi hanya Rp350 ribu. Sedikit tips, kamu harus perhatikan tanggal keberangkatan, karena tiga jenis transportasi di atas tidak tersedia di setiap harinya. Melainkan hanya hari-hari tertentu saja. Kamu bisa menghubungi CS maskapai di bandara Pattimura atau pelabuhan terlebih dahulu. Pastinya RedTraveler nggak mau rugi, kan udah ambil cuti dan jauh-jauh terbang ke Ambon, ternyata nggak ada pesawat atau kapal yang berangkat ke Banda?

Waktu itu aku berangkat dari Ambon pada tanggal 30 Januari 2019. Pesawat takeoff pukul 08.00 pagi. Excited banget waktu pergi karena cuaca lagi cerah-cerahnya dan happy banget karena bisa liburan bareng teman-teman kerja, mengingat susah sekali ambil cuti tahunan dari kantor. Selama naik pesawat agak deg-degan karena baru pertama kali naik pesawat kecil yang hanya boleh memuat maksimal 12 orang saja. Yang bikin tambah deg-degan lagi, apabila di tengah perjalanan tiba-tiba cuaca buruk dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan, pesawat harus balik lagi ke Ambon. Tapi kita, sih, positif thinking aja karena cuaca lagi bagus banget dan pasti lancar terbang ke Banda. Singkat cerita, akhirnya sampai juga di Bandara Banda Neira setelah 45 menit di udara.

Banda Neira

(photo source: dokumentasi pribadi)

Tanpa buang waktu, hari pertama ke Banda kita langsung jalan-jalan, deh. Pulau ini kecil banget jadi cukup dengan jalan kaki aja udah bisa ke banyak tempat wisata. Tapi kalau capek, bisa naik ojek sekitar Rp15 ribu aja. Bangunan-bangunan di Banda rata-rata bangunan lama khas Portugis. Hal ini dikarenakan Banda Neira merupakan tujuan utama jajahan Portugis, jadi mereka ingin menguasai dan memiliki rempah-rempah khas Banda, yaitu pala dan cengkeh. Harga rempah-rempah saat itu mahal banget.

Karena itulah Banda dijuluki The Spice Island. Pulau ini juga merupakan tempat pengasingan para pahlawan kemerdekaan, seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, dan Dr. Cipto Mangunkusumo. Selama di Banda aku berkesempatan masuk ke rumah pengasingan Bung Hatta dan Dr. Cipto. Kerennya, masih banyak benda-benda peninggalan seperti tempat tidur, buku-buku, stetoskop, baju, meja kursi, mesin ketik,foto-foto, dan perabotan lainnya. Selain itu kita juga ke Benteng Nassau dan Benteng Belgica. Potret Benteng Belgica ini terdapat di mata uang Rp1.000, lho. Sedikit tips, kalau mau dapat foto super kece, datang aja sekitar jam 6 sore biar bisa dapat sunset dari atas ketinggian benteng. Nah, pokoknya kalau RedTraveler suka banget sama wisata sejarah, pasti bakal happy banget selama eksplor di Banda Neira, karena banyak sekali tempat bersejarah di setiap sudut pulau ini.

Selain wisata sejarah, tentu saja wisata lautnya merupakan daya tarik utama dari Banda. Kepulauan Banda sendiri terdiri dari beberapa pulau di antaranya Pulau Naira, Pulau Run, Pulau Hatta, Pulau Sjahrir, Pulau Nailaka, Pulau Pisang, Pulau Gunung Api, Pulau Banda Besar, dan Pulau Ai. Untuk menuju ke pulau-pulau tersebut bisa menyewa speed boat yang disediakan oleh penginapan atau sewa ke nelayan setempat. Biaya sewa satu hari bekisar Rp800 ribu sampai Rp1,5 juta tergantung pulau mana saja yang akan dikunjungi.

Sedikit tips, sebaiknya berlibur ke Banda rame-rame bersama rombongan keluarga atau teman, supaya bisa menghemat biaya sewa speed boat. Waktu itu aku dan 6 teman lain ke Pulau Hatta, Banda Besar, dan Pulau Sjahrir dengan sewa speed boat seharga Rp800 ribu, jadi per orang hanya memakan biaya sekitar Rp100 ribu saja.

Murah, kan? Di pulau ini kita bisa bebas berenang dan menikmati keindahan pantai yang sangat eksotis.

banda neira

(photo source: dokumentasi pribadi)

Untuk wisata kuliner di Banda, menu makanannya kebanyakan memang serba ikan seperti nasi ikan, ikan asap, ikan saus, sate ikan, bakso ikan, dan lain-lain. Ikan di sini fresh sekali karena setiap hari nelayan pergi menangkap ikan di malam hari dan langsung dijual di pasar tempat lelang ikan pada pagi harinya. Bagi RedTraveler yang tidak suka ikan, banyak juga tempat makan yang menjual nasi goreng dan mie ayam. Jangan lupa juga saat malam hari untuk nongkrong di café-café dan merasakan roti selai pala dan jus pala.

Bagi yang ingin membawa oleh-oleh juga bisa membeli makanan seperti manisan pala, sirup pala, dan berbagai macam olahan pala lainnya. Pusat oleh-oleh tersedia di sepanjang jalan menuju pelabuhan. Gimana, tertarik untuk menghabiskan waktu liburan di Banda Neira? Mengutip kata-kata Bung Sjahrir, “Jangan mati sebelum ke Banda Neira.” Jadi, masukkan Banda Neira sebagai destinasi wisata kamu selanjutnya, ya, karena bagiku sendiri liburan di Banda Neira sangatlah berkesan karena wisata lautnya yang menakjubkan, wisata sejarahnya membuat kita semakin menghargai para pahlawan bangsa, dan wisata kulinernya yang unik. Paket komplit, deh, pokoknya. Dan apabila RedTraveller ingin berlibur selama pandemi ini harus tetap jaga kesahatan dan patuhi protokol, ya. Stay safe!

 

Penulis: Nelam Dewinta Putri

Instagram: nelamdewinta

Twitter: nelamdewinta

Facebook: Nelam Dewinta Putri

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×