Loading...

Wonosobo

(photo source: dokumentasi pribadi)

Hai, halo... perkenalkan, namaku Amritza Sastya Kirana. Biasa dipanggil Amritza, Sasty, atau juga Kirana. Whatever, yang penting kalo aku nengok pas dipanggil udah cukup kan?

Singkat cerita, aku belum pernah traveling yang benar-benar seperti bebas tanpa tujuan pasti sebelumnya, sampai umurku 22 tahun ini. Tapi, baru sekitar seminggu lalu, tanggal 16 Agustus 2020 aku diajak pergi ke Wonosobo naik motor sama pacarku. Perasaanku excited banget dong. Kapan lagi ada kesempatan begini, karena selama empat tahun masa kuliahku di Purwokerto, yang notabenenya juga merantau, aku nggak pernah jalan-jalan ke tempat wisatanya. Kebayang kan seberapa sumpeknya pikiranku yang minta untuk disegerakan?

Persiapan yang aku lakukan benar-benar minim, satu ransel kecil yang isinya hanya peralatan perang wanita, you know what I mean, hehe... charger handphone dan botol minum saja. Jaket sudah pasti aku langsung pakai, masker pun juga begitu, karena tetap harus mengikuti protokol yang berlaku. Perjalanan dimulai pada pukul 10.00 dari Purwokerto, menyusuri kabupaten Purbalingga, sampai ke Banjarnegara dan tiba di Wonosobo pukul 12.30. Selama perjalanan itu aku diperkenalkan beberapa spot yang pernah didatangi oleh pacarku bersama kawan-kawannya. Mostly banyak pemandangan hijau, karena sawah masih banyak di sekitarnya.

Kamu bener-bener belum pernah melancong selama kuliah apa?” kata pacarku dengan nada meledeknya.

Sungguh aku malu karena merasa kalah wawasan dengannya. Namun meskipun meledek, dia tetap dengan sabarnya menjelaskan setiap pertanyaan yang keluar dari mulutku. Jadi perjalanan selama dua setengah jam itu tidaklah terasa lama.

‘Ah.. traveling kali ini manis juga ya’ pikirku.

wonosobo

(photo source: dokumentasi pribadi)

Sesampainya di Wonosobo, kami mampir sebentar ke tempat teman SMAnya yang tidak begitu jauh dari Dieng untuk sekadar meregangkan badan dan mengisi perut yang kosong sedari berangkat. Aku sarankan jangan meniru kami ya wahai travelers.. kalau akan berpergian, sebaiknya isi dulu perut kalian untuk menghindari mual dan masuk angin selama perjalanan. Tidak enak bukan kalau perjalanan yang harusnya menyenangkan jadi terganggu?

Kesan pertamaku pada Wonosobo adalah dingin, berbeda jauh dengan daerah rantauanku. Sudah menjadi rahasia umum memang kalau Wonosobo terkenal dengan dataran tingginya. Pukul 15.00 kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami ke arah Temanggung, mampir ke warung pinggiran untuk menikmati segelas kopi panas untuknya dan susu cokelat untukku. Pemandangannya sangat indah menurut pendapat pribadiku, sebagai orang yang baru pertama kali melihatnya. Langitnya biru muda, diselingi guratan-guratan putih lembut awan dan semilir angin dingin yang terhembus mampu menghipnotisku saat berada di sana. Pacarku bilang bahwa aku termasuk beruntung, cuacanya terang tanpa mendung saat itu. Seolah-olah alam memang merestui keberangkatan kami. Bahagia itu se-simple ini ya ternyata.

wonosobo

(photo source: dokumentasi pribadi)

Malamnya, kami memutuskan untuk bermalam di suatu homestay syariah dekat kawasan Dieng. Setelah beristirahat cukup, paginya kami meneruskan perjalanan ke arah puncak Dieng, situasinya sangat ramai oleh orang-orang yang berniat mendaki atau sekadar menuju ke tempat wisatanya. Perjalanan kali ini kami tidak berkunjung ke tempat wisata, karena bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-75, terbayang sendiri akan sepenuh apa tempatnya nanti. Jadi kami hanya melewatinya saja, bahkan Tugu Dieng pun ramai, sehingga tidak sempat untuk mendokumentasikannya. Tapi pemandangan cantik gunung Sindoro tersimpan dalam galeriku.

Traveling kali ini diakhiri dengan perjalanan kembali ke Purwokerto via Batur, Banjarnegara. Selama perjalanan pulang, aku mengucap banyak rasa syukur atas kebahagiaan yang telah diperoleh. Berharap semoga akan ada kesempatan untuk mengeksplor lebih banyak lagi tempat indah di seluruh penjuru Jawa ini. Karena akan sangat disayangkan jika Indonesia yang luas ini tidak aku kenal sama sekali, ya kalau budget-nya minim, setidaknya satu pulau ini saja dulu yang dijelajahi. Bermimpi itu tidak salah kan travelers? Sampai jumpa diceritaku selanjutnya ya..

Yogyakarta, wait for me!!”

Penulis: Amritza Sastya Kirana

Instagram: @amritzasastya

Facebook: Amritza Sastya Kirana

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×