Loading...

Gunung Bawakaraeng

(photo source: dokumen pribadi)

Bagian I: Pengenalan

"Tepat pada tanggal 28 Oktober 2018, saya dan teman-teman sukses menaklukan puncak gunung Bawakaraeng dan mengikuti upacara Sumpah Pemuda dengan khidmat di sana." Ohiya teman-teman, sebelum jauh mambaca tulisan ini, pertama-tama saya ingin mengenalkan diri saya, sebab ada pepatah mengatakan, "Tak Kenal Maka Tak Sayang." Hehehe. Jadi nama saya Muhammad Rezha Mulya Sugiri, seorang lekaki yang tengah duduk di semester delapan dengan kesibukan memusingi skripsian. Kesukaan saya adalah menghabiskan waktu membaca buku, traveling, dan menyeruput kopi. Oh iya, asal saya dari Makassar. Salam hangat untuk teman-teman pembaca.

Bagian II: Persiapan

Sebulan sebelum berangkat, saya berdiskusi dengan teman-teman kelas mengenai persiapan mengikuti agenda upacara Sumpah Pemuda di puncak Gunung Bawakarang. Kami memilih Gunung Bawakaraeng dengan beribu alasan. Paling utamanya arena jalurnya yang sangat menantang ciri dari pemuda adalah berbahaya bukan? Hehe, dan tentunya suguhan panorama yang begitu amat memanjakan mata setiap saat untuk siapa saja yang berhasil menapakkan kaki di puncaknya. Terlepas dari banyaknya kabar buruk di gunung ini, mulai hal mistis dan banyaknya korban jiwa, kami tetap memantapkan diri dan membulatkan tekad untuk menaklukannya.ohiya,  gunung Bawakaraeng memiliki 10 Pos dan terletak di kabupaten Gowa. Gunung yang istimewa di tanah Sulawesi.

Beberapa hari sebelum hari-H, Kami pun bergegas melengkapi kebutuhan perlengkapan. Mulai alat outdoor yang beragam jenisnya dan kebutuhan logistik seperti makanan dan obat-obatan. Selain itu, kami juga sering membaca buku dan menonton kanal video online tentang genre survive di alam bebas, sebagai referensi sebelum bertolak ke sana. Kesiapan mental dan fisik juga diperlukan. Berdoa dan rutin melalukan joging dapat meningkatkan kesiapan kita.

Bagian III: Hari Keberangkatan

Saya berangkat pagi dengan 5 teman kelas: Wandi, Wahid, Risal, Edi, dan Irfan, Wandi bertindak sebagai leader sebab pengalaman dan jam terbangnya dalam dunia daki-mendaki sudah tidak bisa diragukan lagi kemampuannya, boleh dibilang, passion-nya memang ada pada dinikami kegunungan.

Kami pun akhirnya tiba siang hari di kaki gunung. Memarkir kendaraan, menyalakan kretek untuk menghangatkan tubuh. Orang lalu lalang dan kami saling melempar senyum dan memberi salam yang merupakan adab dan kebiasaan pencinta alam. Berbagai orang dari komunitas yang berbeda kami temui di kaki gunung, tampaknya mereka juga memiliki tujuan yang sama seperti kami: mencapai puncak.

Sekitar pukul 15.00. Kami memantapkan diri untuk berangkat. Sebelum itu kita berdoa sejenak untuk mentawaqkalkan dan berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala yang nantinya akan menimpa kami selama perjalanan. Pos 1 sampai 4 kita lewati dengan lancar. Pukul 22.00 kami tiba di pos 5 untuk camp atau menginap. Pos 5 merupakan pos sumber mata air.

Pukul 07.00 kami bangun. Memanaskan air untuk menanak nasi, merebus mie dan meminum kopi. Udara yang begitu dingin menjilati tubuh saya yang berlabiskan kaos dan parka tebal. Mentari pagi muncul membuat kita saling bertatap-tatapan dengan para pendaki lainnya. Tak lupa saya mengambil beberapa gambar untuk saya abadikan.

Pukul 10.00 semua hajat telah terpenuhi. Saatnya melanjutkan perjalan untuk tiba ke puncak. Pos per pos kami lalui dan kami tiba di Pos 8 pukul 16.00 untuk istrahat sejenak. Di sini pos kedua dan terakhir yang memiliki sumber mata air. Pos 8 juga dijuluki Telaga Bidadari karena di sana terdapat telaga yang begitu indah. Kami makan-makan sambil menikmati keindahan pos 8.

Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan yang menyisakan 2 pos. Selama sisa perjalanan itu, saya bersama teman-teman saling bercanda dan bercengkrama untuk menjaga kesolidan dan moral agar kita tetap terjaga dari rasa kelelahan.

 

Bagian III: Tiba!

Gunung Bawakaraeng

(photo source: dokumen pribadi)

Pukul 17.45 Kami Tiba di Puncak!

Sungguh pemandangan yang luar biasa. Kami tiba pas dengan momen matahari terbenam. Ratusan pujian berdengung dalam hati saya, air mata saya menetes. Sungguh betapa indahnya sebuah ciptaan Tuhan. Saya membeku di puncak, bukan karena hipotermia, bukan pula karena kelelahan. Tapi, rasa takjub yang saya rasakan begitu awet dan berkepanjangan. Rasa syukur terus saya ucapkan di bibir saya pelan-pelan.

Setelah puas menikmati pemandangan alam yang tersajikan dengan apik di Gunung Bawakaraeng pada waktu senja, kami selanjutnya mendirikan tenda dan memasak. Kopi dan makanan berat telah selesai dibuat, kami menyantapnya dengan begitu lahap.

Malam semakin larut. Saya bersama teman-teman memutuskan untuk tidur dan beberapa tetap terjaga sampai tiba pada hari di mana waktu upacara di mulai.

Tepat pukul 10.00 tertanggal 28 Oktober 2018, seluruh pendaki berkumpul untuk melakukan upacara dan berikrar sumpah pemuda. Semua peserta sangat antusias. Upacara berjalan dengan khidmat. Rasa bangga sebagai pemuda Indonesia tertanam dalam hati dan pikiran, melekat pada kulit dan daging. Kami bangga menjadi Pemuda Indonesia! Terima kasih Indonesiaku!

Bagian IV: Pesan-pesan

Gunung Bawakaraeng

(photo source: dokumen pribadi)

Teman-teman pembaca, ketahuilah bahwa Indonesia itu sangatlah luas. Berisi banyak keanekaragaman hayati, flora dan fauna. Berisi banyak suku, adat istiadat, agama dan kebudayaan. Berjalanlah. Berjelajalah. Bertualanglah. Di setiap langkah yang kau ambil takkan sia-sia. Kumpulkanlah kepingan pengalaman dalam perjalananmu agar kau bisa meraih kebijaksanaan dan menjadi sebaik-baiknya manusia.

 

Penulis: Muh Rezha Mulya Sugiri

Instagram: @imcules

Facebook: Muhammad Rezha Mulya Sugiri

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×