Loading...

travelling di daerah perbatasan

(photo source: dekumentasi pribadi)

Travelling tidak hanya tentang berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya. Traveling adalah proses belajar serta memahami akan indahnya keberagaman Indonesia. Setiap perbedaan yang kita temukan didalam perjalanan kita belajar arti baru akan pentingnya sebuah penerimaan yang kita kenal dengan istilah toleransi.

Namaku Patli Khail, aku senang melakukan solo Travelling ke berbagai  daerah di Indonesia alasannya sederhana aku tidak ingin mengeksploitasi alam dengan melakukan perjalanan yang melibatkan banyak orang dalam kelompok.

Desember 2019, aku menemukan sebuah platform yang menawarkan traveling unik di daerah perbatasan, traveling ini hanya menerima 1 - 3 orang dalam satu kali perjalanan. Mengusung tema Eco-Tourism, tentunya komunitas ini sangat perduli dengan alam perbatasan yang masih alami dan terjaga. Dengan konsep lost in Hinterland , perjalan ini benar benar dibuat seakan akan kita sedang tersesat disebuah pulau perbatasan.

Pulau yang kami kunjungi kali ini adalah Pulau Nguan, terletak di perbatasan pulau Batam, tepat di seberang jembatan 6 Barelang. Perjalan ini ditempuh 3 jam dari pusat kota, lalu dilanjutkan dengan perahu kayu selama 30 menit dari pelabuhan Pari jembatan 6 Barelang. Setelah diantarkan oleh anggota komunitas  kami ditinggalkan di pulau Perbatasan ini selama 3 hari.

Dengan berbekal 1 buah amplop berisi jadwal serta petunjuk apa yang akan kami lakukan selama 3 hari di pulau tersebut. Uniknya kami harus menginap di rumah warga dan berinteraksi langsung untuk meminta izin ke salah satu rumah penduduk untuk menginap selama 3 hari . Penduduk di pulau ini sudah mulai terbiasa dengan adanya pengunjung yang datang dan menginap di rumah mereka, mereka sangat ramah serta sambutan mereka sangat hangat.

travelling di daerah perbatasan

(photo source: dokumentasi pribadi)

Setelah mendapatkan tumpangan tempat tinggal, kamu disuguhkan dengan acara adat penyambutan tamu dengan makan bersama. Beragam makanan khas daerah disajikan, dari makanan yang disajikan kita dapat melihat bertapa kayanya laut mereka. Setelah acara makan bersama, kita akan disajikan dengan berbagai penampilan kebudayaan lokal, mulai dari berbalas pantun, syair, hingga joget dangkong.

Kegiatan malam di daerah ini hanya sampai jam 22:00 WIB, karena listrik di daerah ini hanya beroperasi dari jam 18:00 s.d 22:00 WIB setelah itu pulau ini akan gelap tanpa cahaya. Hanya ada lampu teplok yang menemani kita tidur. Suasana ini akan sangat baru bagi kita yang terbiasa hidup di kota dengan fasilitas listrik 24 jam .

Kesokan harinya di pagi hari 06:30 WIB kita sudah disajikan sarapan khas setempat, setelah sarapan kita akan mengikuti petunjuk yang diberikan tim komunitas. Kegiatan pertama adalah mengikuti nelayan melaut, kita akan melihat langsung bagaimana nelayan menjaring ikan dan hasil lautnya. Setelah 3 jam di atas laut kita kembali ke pulau, lalu mengikuti kegiatan para ibu yang membuat kerajinan setempat. Sungguh perjalanan yang menakjubkan, selain disajikan pemandangan alam yang masih asri serta indahnya laut perbatasan, perjalanan ini memberikan sesuatu yang tidak akan kita temukan di daerah lainnya yaitu kekayaan dan kealamian budaya lokal itu sendiri.

travelling di daerah perbatasan

(photo source: dokumentasi pribadi)

Setelah makan siang dan beristirahat, kita akan berpartisipasi dalam acara yang sangat penting yaitu pulau inspirasi. Dalam kegiatan pulau inspirasi, kita mengajarkan soft skill yang kita miliki serta menginspirasi adik-adik untuk semangat belajar meskipun tinggal di daerah perbatasan. Bagiku ini adalah bagian yang paling luar biasa dalam perjalanan ini. Saat kita bisa berinteraksi langsung dengan puluhan anak-anak perbatasan, melihat mereka tertawa, melihat semangat mereka, dan yang jauh lebih penting melihat mata mereka yang menyala-nyala saat aku berbicara soal cita cita.

Kini aku mengerti makna bahagia sesungguhnya,kita tidak bisa bahagia sendiri, kebahagiaan justru dapat kita rasakan ketika kebahagiaan itu kita bagikan dengan orang lain.

Setelah kelas inspirasi, lalu dilanjutkan dengan kegiatan petang santai, petang santai adalah kita bersantai bersama penduduk setempat sambil minum kopi dan menikmati berbagai macam kue khas setempat. Berbincang, tertawa dan berbagi pengalaman, sangat berbeda dengan keadaan di kota. Bahkan aku lupa kapan terakhir kali aku berinteraksi sedekat ini dengan banyak orang dan sajian kopi dan makanan daerah tanpa memikirkan deadline, status sosial serta semrawutnya ibu kota .

travelling di daerah perbatasan

(photo source: dokumentasi pribadi)

Hari kedua adalah hari terakhirku di pulau Nguan, sedih rasanya harus berpamitan dengan penduduk setempat. Hangatnya interaksi ini akan sangat aku rindukan, karena hanya di sini aku merasa menjadi manusia kian istimewa. Tapi ini bukan penutupan perjalanan, aku masih memiliki 1 hari lagi serta 1 tempat terakhir untuk menutup perjalanan ini. Aku diantarkan team komunitas ke Pulau Abang, di pulau ini kami disediakan tempat camping dan bermalam di sana, keesokan paginya kita akan mengikuti kegiatan terakhir yaitu snorkeling.

Setelah mengikuti kegiatan penduduk lokal yang luar biasa, kita disajikan sebuah suasana camping yang sangat tenang, kita seperti diberikan waktu untuk berpikir dan mengenal diri kita dengan baik. Kita bisa melihat diri kita yang sesungguhnya saat orang melihat kita bukan apa-apa dan bukan siapa siapa. Perjalan ini bukanya hanya tentang mengunjungi wilayah perbatasan, tapi lebih tepatnya aku ingin menyebutnya travel healing. Kita memang seperti tersesat disebuah pulau, tapi sejatinya kita bisa menemukan siapa kita yang sesungguhnya jika beruntung kita akan jauh lebih bersyukur setelah menyelesaikan perjalanan ini.

travelling

(photo source: dokumentasi pribadi)

Debur ombak membangunkan ku dipagi hari, aku membuka tenda. Sunrise menyapa tepat di depan wajah, ketenangan ini maha sempurna. Suasana ini akan selalu dirindukan mereka yang terjebak hiruk pikuk ibu kota. Snorkeling dibawah permukaan laut yang hijau membuat kita menyadari bertapa indahnya Tuhan menciptakan semesta. Diperjalanan pulang di atas perahu kecil aku membungkuk kan badan memberikan penghormatan kepada penduduk pulau Nguan, terima kasih telah menciptakan kesan yang tidak akan pernah aku lupakan. Aku pamit untuk melanjutkan perjalananku untuk melihat kekayaan serta keberagaman Indonesia lainnya. 

 

Penulis: Muhamad Patli

Instagram: Patlikhail

Facebook: Patli Muhammad

Cropped fav logo@2x
Press Enter To Begin Your Search
×