Loading...

Foto: Dok. Pribadi

Hujan deras tiba-tiba mengguyur Jakarta siang ini. Setelah berminggu-minggu cuaca terik, hujan mengubah suasana Senin siang ini. Aku bisa mencium aroma yang dihasilkan hujan yang bercampur dengan tanah. Petrikor, begitu orang-orang menyebutnya. 

Sayangnya hujan bukan saja mampu membuat suasana menjadi sejuk, tapi hujan juga memiliki kemampuan untuk membawa kita pada potongan kenangan dan rasa rindu. Seperti siang ini, di saat hujan turun dengan derasnya, aku malah termenung di depan laptop mengingat kembali pada peristiwa sekitar 7 tahun yang lalu. 

25 Desember 2013. Hari itu juga hujan turun dengan derasnya. Tapi langit lebih gelap dari hari ini. Bahkan beberapa kali terdengar petir menyambar. Orangtuaku menatapku dengan sedikit khawatir ketika aku dan suami memasukkan satu persatu barang bawaan kami ke dalam mobil. “Hati-hati ya,” pesan mereka ketika kami berpamitan. Kami pun mengiyakan agar mereka tenang, sebelum akhirnya kendaraan kami melaju menuju pantai.

Pantai? Di musim hujan? Mungkin kalian yang membaca ada yang bertanya-tanya apa asiknya liburan ke pantai menjelang akhir tahun dimana hujan turun hampir setiap hari. Aku tahu, aku pun merasakan hal yang sama ketika sepupuku minta diajak libur panjang menyusuri pantai tapi di akhir tahun. Awalnya aku sempat menolak, apalagi akhir tahun biasanya tempat-tempat wisata penuh. 

Pada akhirnya aku enggak tega untuk tidak mengiyakan permintaan sepupuku untuk bisa diajak liburan di akhir tahun. Aku pun mulai menyusun rencana perjalanan ini jauh-jauh hari sebelumnya. Karena kali ini akan ada ponakan berusia 3 tahun, aku pun harus merencanakan semuanya dengan detail, berbeda dengan biasanya kalau cuma pergi berdua saja. Tapi aku pun berpesan pada sepupuku, apa pun yang terjadi saat liburan, tolong tetap nikmati perjalanannya. Karena aku percaya semua hal baik yang memang sesuai rencana maupun di luar rencana, pasti akan menjadi kenangan tersendiri. Dan benar saja, kisah liburan akhir tahun  aku menyusuri berbagai pantai menjadi salah satu liburan yang paling berkesan sampai saat ini. 

Inilah 5 pantai yang kami kunjungi selama 5 hari beserta kisah-kisah yang bisa terlupakannya.

Pelabuhan Ratu

Petualangan 5 hari ke depan kami dimulai dari Pelabuhan Ratu dari Padalarang. Sebelumnya aku dan suami menginap dulu satu malam di rumah sepupuku, biar kami bisa berangkat beriringan di pagi hari. Kami berhenti sejenak di perjalanan untuk menikmati  sarapan bubur ayam di Cianjur dan baru tiba di pantai kawasan Pelabuhan Ratu menjelang jam makan siang.  Menyambut pertemuan denganpantai, aku mengajak kembali beristirahat di pinggir pantai Citepus, sambil menikmati makan siang.

Aku sudah memesan kamar di salah satu penginapan persis di pinggir pantai. Kebetulan lokasinya juga tak jauh dari Pantai Karang Hawu, salah satu objek wisata di Pelabuhan Ratu dimana batu karangnya menyerupai tungku. Dalam bahasa Sunda hawu berarti tungku. Aku bersyukur, langit justru cerah dan memberikan sunset yang indah. Begitu juga dengan pantainya yang tidak crowded.

Sawarna

Pantai Pulo Manuk

Perjalanan kembali dilanjutkan menujur Sawarna, Banten. Tentunya kali ini kami tak perlu berangkat terlalu pagi. Jarak tempuh tidak sejauh di hari pertama. Aku memang sudah memikirkan jarak tempuh harian kami mengingat there’s a kid on board. Sebisa mungkin kami berjalan santai. Bahkan kami masih sempat berhenti sejenak dalam perjalanan, untuk menikmati pemandangan dan secangkir kopi.

Ada beberapa pantai yang masuk dalam list aku untuk kami kunjungi. Yang pertama adalah Pantai Pulo Manuk. Tadinya kami berencana mengejar matahari terbenam di Tanjung Layar. Tapi karena ponakanku sudah terlanjur asik bermain air dan enggan diajak pindah tempat, jadi kami pun berakhir menikmati senja di sini.

Pantai Goa Langir

Selain Pantai Pulo Manuk, kami juga sempat menikmati Pantai Goa Langir yang tak jauh dari tempat kami menginap keesokan harinya. Hari itu sedikit mendung. Tapi aku masih bersyukur tidak turun hujan.

Pantai Badegur

Ini kali pertama aku menuju Malingping. Dari yang aku baca di internet, harusnya sepanjang jalan kami akan disuguhi oleh banyak pantai. Benar saja, salah satunya adalah Pantai Karang Sosong. Kami sempat berhenti sejenak untuk berfoto-foto. 

Sunrise di Pantai Badegur

Pantai Badegur menjadi pilihan aku untuk menikmati sunset sekaligus sunrise. Kebetulan aku berhasil mendapatkan penginapan tak jauh dari pantai ini, sehingga kami bisa leluasa bolak-balik ke pantai. 

Tekstur pasir di Pantai Badegur ini cukup padat. Agak kaget aku mendapati tidak sedikit kendaraan roda dua seliweran di pantai ini. Mungkin karena jatuhnya hari Sabtu, sehingga untuk kali pertama sepanjang liburan ini, aku merasakan keramaian di pantai. 

Pantai Ciputih

Setelah sebelumnya menyusuri pantai, kini jalur perjalanan kami sedikit menjauh dari pantai. Kami menuju Ciputih yang berada dalam kawasan Ujung Kulon.  Tadinya aku berharap bisa mampir ke Taman Nasional Ujung Kulon, tapi mengingat jalan yang kami lalui tidak terlalu mulus, sehingga cukup memakan banyak waktu, mau tak mau kami pun langsung menuju salah satu penginapan di Ciputih.

Pantai Ciputih

Sesuai dengan namanya pasir di Pantai Ciputih ini berwarna putih dan lembut, berbeda dengan Pantai Badegur yang sebelumnya kami singgahi. Entah karena lautnya  berada selat Sunda, ombak di Ciputih ini tidak begitu besar. Kami bisa leluasa berenang tanpa takut ombak. Sayangnya hujan turun di sore hari mengharuskan kami berhenti berenang dan tak bisa menikmati sunset.

Pulau Oar

Yang paling menarik di sini, ada banyak nelayan yang mewarkan kapal untuk ke pulau-pulau sekitar pantai Ciputih, seperti ke Pulau Peucang dan Pulau Oar. Sebenarnya aku ingin sekali ke Pulau Peucang.  Tapi sayang, harga yang ditawarkan per kapal adalah Rp 2.500.000, terlalu mahal. Akhirnya kami memilih untuk trip ke Pulau Oar saja yang lebih ramah dengan isi dompet. Lagipula, menurut keterangan nelayan ini di pulau ini kami bisa snorkling. Namun ternyata karena bukan hari libur, kami batal untuk snorkling. Karena tempat penyewaan peralatan snorkiling-nya tutup. Tapi kami tetap puas bisa menikmati bermain air di pulau ini.

Pantai Tanjung Lesung

Liburan panjang kami hampir berakhir. Tanjung Lesung menjadi tempat terakhir dalam rencana aku. Ada sedikit drama dalam perjalanan kali ini, Google Maps yang menjadi andalan aku dalam memandu jalan, sukses membuat aku salah memilih jalan. Alih-alih ke jalan raya, aku malah membawa rombongan ke jalanan yang becek dan tak beraspal. Akhirnya? Aku terpaksa turun dari kendaraan dan mendorong mobil yang slip.

Tanjung Lesung dikenal dengan Kawasan Ekonomi Khusus. Tak heran kalau budget untuk Tanjung Lesung hampir setengah dari total budget liburan kami secara keseluruhan. Ditambah, menjelang akhir tahun. Tapi mengutip kalimat sepupuku: “Biar pernah ngerasain ke Tanjung Lesung dong.” Ahahaha…. Benar juga sih.

Sayangnya, ternyata kami belum benar-benar berjodoh dengan Tanjung Lesung. Kami tiba di saat hari sudah sore dan hujan deras. Tak mungkin untuk menikmati senja di tepi pantai. Rencananya kami baru akan puas-puasin mengeksplor Tanjung Lesung esok paginya. Tapi justru aku menerima kabar buruk saat sedang menikmati sarapan. Mamaku mengalami kecelakaan dan di rawat di rumah sakit di Bandung.

Tidak ada hal yang  benar-benar bisa sesuai dengan kita rencanakan. Tapi bukan berarti kita tak bisa menikmatinya. Mau tak mau, aku terpaksa memangkas liburan kami. Berbegas melanjutkan perjalanan ke Bandung.

Penulis: Dian Safitri

Instagram: travelgalau

Twitter: dianravi

Facebook: dianravi

Press Enter To Begin Your Search
×