Loading...

Tahun lalu, tepatnya akhir bulan Februari, aku dan keluargaku, terdiri dari paman, tante, nenek, dan adik sepupu, pergi berkelana di tiga kota besar di Eropa. Berangkat dari Munich, kami menghabiskan waktu kurang lebih 5 hari di perjalanan ini.

Di kota yang pertama, kami hanya transit selama kurang lebih setengah hari. Di kota kedua, yang merupakan tujuan utama perjalanan ini, kami menghabiskan 3 hari 2 malam. Lalu, di kota terakhir hanya 1 hari 1 malam saja. Meski hanya sebentar, tetapi kesan yang ditinggalkan kota-kota ini sangat berbekas di ingatan kami.

Mau tahu aku pergi ke kota-kota apa saja? Baca artikel ini sampai habis ya!

12 Jam Tak Terlupakan di Paris

Tanggal 26 Februari 2019 adalah hari dimana aku bisa melihat menara Eiffel dengan mata kepalaku sendiri. Well, aku sebenarnya sudah punya rencana untuk berwisata ke Paris, tapi tidak dalam waktu dekat. Aku tidak menyangka akan terealisasi secepat ini. I‘m NOT complaining, though. Lagipula, lebih cepat lebih baik, kan? *wink*

Aku dan keluargaku awalnya tidak berencana untuk pergi ke Paris. Kami sebenarnya ingin langsung ke Yerusalem, tujuan utama perjalanan ini. Tetapi pamanku berpikir kalau tidak ada salahnya untuk singgah dan menikmati pusat kota mode dunia ini meski hanya 12 jam. We agreed with the idea right away, no discussions needed. Dengan segera, pamanku memesan tiket ke Tel Aviv yang transit di Paris.

Saat tiba di Paris, kami langsung menaiki bus bandara yang mengantarkan kami ke jantung kota Paris. Kami sontak terkejut saat turun dari bus karena bangunan pertama yang kami lihat adalah Galeries Lafayette.

Tanpa berpikir panjang, kami langsung berjalan ke dalam dan seketika mata kami berbinar. Tas, sepatu, baju, serta parfum dari brand-brand ternama dunia terpampang nyata membahana di depan mata kami. Sungguh pemandangan yang menguji iman! Sekadar mengingatkan, jika isi dompet dan iman kamu sama-sama “lemah”, aku sarankan hindari tempat ini at all cost.

Kami menghabiskan dua jam untuk menikmati makan siang disana. Setelah menyantap habis fish ‘n chips yang dipasangkan dengan nasi putih (hidup perut Indonesia!), kami segera melanjutkan perjalanan menggunakan bus tur dalam kota.

Aku sangat merekomendasikan City Bus Tour jika kalian mengunjungi Paris dengan waktu yang sangat singkat. Mengapa? Karena bus ini benar-benar mengantar kamu ke setiap objek wisata utama di kota Paris dalam 1 hari. Setiap bus akan berhenti di setiap tempat wisata selama 30 menit, jadi kamu bisa turun untuk sekadar selfie di tempat wisata impianmu.

Uniknya lagi, layanan hop-off/hop-on memungkinkan kamu untuk turun, lalu menaiki bus selanjutnya untuk melanjutkan tur gratis jika ketinggalan bus yang kamu naiki di awal. Kamu cukup menunjukkan tiketmu saja. Waktu itu, harganya 130 Euro untuk 4 orang dewasa dan 1 balita. Lumayan murah, kan?

Sayangnya, aku dan keluarga hanya sempat turun di Eiffel saja, soalnya waktu yang mepet tidak memungkinkan kami turun di tempat wisata lainnya, seperti Notre Dome, Louvre, atau Arc de Triomphe. Kami menghabiskan waktu senja berkeliling di sekitar menara Eiffel serta taman luas yang terbentang di depannya. Saat malam tiba, kami pun melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

3 Hari Penuh Cerita di Yerusalem

Aku dan keluargaku adalah keluarga Kristen yang terbilang cukup taat, khususnya Nenek. Ia sudah lama memiliki mimpi untuk bisa berkunjung ke kota suci Yerusalem. Tidak heran jika ia menangis terharu saat paman mengumumkan kalau kami akan pergi ke Yerusalem. Well, we all sorta cried happy tears as well.

Penerbangan dari Paris ke Tel Aviv, Israel, memakan waktu sekitar 4-5 jam. Saat itu cuaca cukup buruk sehingga penerbangan kami tidak begitu mulus. Untungnya, kami tiba di Tel Aviv dengan selamat sentosa. Jadi, aku sarankan jangan ke Israel di awal tahun karena cuacanya cukup ekstrim, terutama anginnya.

Dari bandara internasional Ben Gurion di Tel Aviv, kami bergegas membeli tiket kereta cepat ke Yerusalem. Kereta ini terletak beberapa lantai di bawah bandara. Waktu yang ditempuh untuk sampai ke Yerusalem hanya 45 menit saja.

Sesampainya kami di Yerusalem, kami beristirahat seharian penuh. Setelah berkeliling di Paris sepanjang hari dan ditambah waktu penerbangan yang tidak sebentar, kami sangat membutuhkannya.

Di hari kedua, kami bergegas ke destinasi pertama yang ada di list, yaitu Gereja Kelahiran (The Church of Nativity) di Betlehem, Palestina. Gereja ini dipercaya oleh umat Kristiani sebagai tempat Yesus Kristus dilahirkan. Di dalamnya terdapat tiga biara yang masing-masing dimiliki oleh gereja Ortodoks Yunani, Apostolik Armenia, dan Katolik Roma.

Gereja Kelahiran memberikan kesan yang tidak terlupakan. Selain karena bisa mengunjungi tempat kelahiran Yesus, kami juga mengalami kejadian tidak biasa sepanjang perjalanan. Pertama, supir kami hampir berkelahi di tengah jalan. Lalu, di perbatasan Israel-Palestina, kami harus berganti taksi karena orang Israel dilarang melewati perbatasan ke Betlehem. Yang terakhir, kami disambut hujan ES saat tiba disana.

Kejadian yang terakhir adalah yang paling ironis sekaligus lucu yang pernah kami alami. Tidak main-main, es yang turun rata-rata sebesar batu kerikil. Jika terkena kepala, mungkin kami bisa vertigo. Ditambah lagi, suhu udara saat itu 2 derajat dibawah nol. Kurang ironis apa lagi?

Di dalam bangunan gereja, terlihat beberapa bagian yang tampak masih dalam pembangunan/perbaikan. Prasasti-prasasti suci terpampang di dalam lemari kaca yang dikunci rapat-rapat. Di depan pintu menuju palungan, turis mancanegara berkerumun dan tampak tidak sabar untuk masuk ke dalam dan melihat langsung palungan yang menjadi tempat lahir Yesus.

Saat yang kami tunggu pun tiba. Setelah antrian panjang, kami akhirnya memasuki area tempat palungan tempat bayi Yesus berada. Kami dipersilahkan menyentuh dan berdoa dalam hati. Kesempatan ini aku gunakan baik-baik untuk berdoa dan mengucap syukur untuk berkat yang telah diberikan oleh Tuhan. Bahkan saat membayangkan kembali, aku masih saja merinding. Sungguh pengalaman yang sangat bernilai!

Ruangan tempat palungan Yesus cukup sempit dan tangga yang sedikit curam. Pengunjung dihimbau untuk tidak berdesakan agar tidak ada yang terjatuh. Meski diperbolehkan untuk mengambil gambar, tapi aku sarankan untuk mengambil secara cepat karena antrian masuk bisa sangat panjang. Kamu ga mau kan dimarahi sama penjaga ruangan ini karena membuat antrian jadi semakin lama?

Setelah dari sana, kami mengunjungi tempat jual oleh-oleh yang ada di area sekitar gereja. Harganya cukup murah jika dibandingkan dengan souvenir yang kami beli di Paris dan Roma. Oleh-oleh yang tersedia pun beragam, mulai dari kalung, gelang, hiasan untuk dekor, hingga minyak urapan.

Hari terakhir di Yerusalem kami manfaatkan untuk mengunjungi 5 objek wisata sekaligus. Pertama, kami ke Taman Makam (The Garden Tomb). Taman ini dianggap sebagai tempat pemakaman dan kebangkitan dari Yesus Kristus. Lalu, kami berjalan kaki ke Kota Tua (The Old City) dan mengunjungi Via Dolorosa. Dari sana, kami menelusuri jalan hingga ke Tembok Ratapan (The Wailing/Western Wall). Untungnya, semua objek wisata ini berada di satu jalur yang sama dan saling berdekatan.

Kami juga menyempatkan diri pergi ke Taman Getsemani dan Laut Mati. Tidak banyak yang dapat dilihat di Taman Getsemani selain pohon Zaitun yang dipagari. Taman berukuran kecil ini sebenarnya seperti taman pada umumnya. Hanya saja nilai keagamaan yang terkandung di dalamnya tentunya tidak biasa. Di taman inilah, Yesus berdoa sebelum Ia diserahkan untuk disalibkan.

Berbeda dengan taman Getsemani yang terletak di dalam kota Yerusalem, Laut Mati terletak di luar kota Yerusalem. Untuk sampai disana, kami harus mengendarai mobil selama kurang lebih 1 jam.

Kami tidak berlama-lama disana sebab; (1) kami harus mengejar penerbangan, (2) angin bertiup TERLALU kencang sehingga membuat kami masuk angin. Untungnya, kami cukup terhibur dengan menaiki unta yang kebetulan ada di dekat situ. Seperti yang dapat dilihat di foto di bawah, Tante dan Nenek terlihat menikmati (juga sedikit panik) tumpangan unta itu.

Fun fact: Laut Mati adalah titik daratan terendah di Bumi karena berada 417.5 meter di bawah permukaan laut, lho! Pantas saja saat di perjalanan, telinga kami sering berdengung beberapa saat sebelum akhirnya terbiasa dengan altitudenya.

Setelah melalui perjalanan yang sangat hectic, kami akhirnya tiba di bandara internasional Ben Gurion dan bersiap-siap untuk penerbangan kami ke Roma. Namun, karena satu dan lain hal, paman, tante, dan adik sepupuku tidak bisa berangkat bersama kami. Dengan terpaksa, aku berangkat berdua saja dengan Nenek ke Roma dan mereka terbang langsung ke Jerman. Ya, mau bagaimana lagi. Daripada tiketnya hangus, mending dijalani saja. Kesempatan ga bakal datang dua kali juga, kan?

1 Hari Penuh Kejutan di Roma

Dengan segala drama yang kami hadapi di bandara internasional Ben Gurion Israel, akhirnya aku dan Nenek tiba di Roma. Kami mendarat sekitar pukul 9 malam lalu sampai di penginapan jam 11 malam. Saat itu aku dan nenek didenda oleh pemilik penginapan karena terlambat datang dari waktu yang telah disepakati oleh pamanku kepada si penyewa. Sudah lelah berlari mengejar kereta terakhir, kena denda pula. Amsiong!

Keesokan harinya, kami memulai hari dengan rasa bingung karena tidak tahu apa yang harus kami lakukan sebelum pulang ke Jerman. Kami hanya memiliki waktu sekitar 8 jam untuk berkeliling kota. Akhirnya, kami (lebih tepatnya aku) memutuskan untuk menggunakan cara kami di Paris: City Bus Tour to the rescue!

Kami segera membeli tiket (25 Euro/orang) dan segera meluncur naik ke bus. Sepanjang jalan, aku duduk terkesima melihat jalan-jalan di kota Roma. Pohon jeruk tumbuh dengan subur di trotoar jalan, bangunan-bangunan dengan vintage vibe-nya, serta orang-orang Roma yang sangat stylish menghiasi pemandangan di jalan.

Perjalanan dimulai pukul 9 pagi. Terletak tidak jauh dari stasiun bus, kami tiba di perhentian pertama yang ternyata adalah COLOSSEUM. Tentu saja mataku terbelalak karena benar-benar kaget. It was huge… no, HUMONGOUS! Bahkan dari jarak ratusan meter bangunan bekas arena gladiator ini tetap terlihat megah dan kokoh.

Tentu saja kami turun di Colosseum. Meski koper di tangan kanan, dan tas jinjing di tangan kiri, tetapi kami tetap memutuskan untuk mengelilingi salah satu keajaiban dunia ini. Sayangnya, kami tidak bisa masuk ke dalam karena saat itu pengunjung sangat ramai dan kami tidak memiliki banyak waktu. Jadi kami hanya memotret beberapa foto lalu kembali naik ke bus dan melanjutkan tur kami.

Perhentian kami yang kedua ada Circa Massimo, atau lebih dikenal dengan nama Circus Maximus. Awalnya aku bertanya-tanya untuk apa lapangan sepanjang itu. Lebarnya tak seberapa dan di tengahnya ada jalan setapak yang dikelilingi oleh jalan melingkar yang lebih rendah. Setelah mencari di mbah gugel, akhirnya aku mengerti.

Circa Massimo adalah area hiburan bagi bangsa Romawi kuno. Arena ini ternyata merupakan tempat pacuan kuda jaman dulu. Jadi jalan melingkar yang berada di pinggir jalan setapak adalah tempat kuda berpacu. Pantas saja panjangnya tidak seperti lapangan pada umumnya. Berjalan dari ujung satu ke ujung yang lain cukup membuat kaki kami gemetaran karena kelelahan.

Setelah istirahat beberapa saat, kami pun kembali menaiki bus tur kota dan berkeliling kota Roma. Karena takut ketinggalan kereta, kami memutuskan tidak turun di objek wisata lainnya (termasuk kota suci Vatikan, sigh). Akhirnya bus kami tiba di tempat kami naik, which is stasiun Roma Termini. Untungnya, kami tidak perlu kemana-mana lagi karena kereta kami ke Jerman berangkat dari stasiun ini. Such a convenience!

Penutup

Meski hanya beberapa hari, namun perjalananku kala itu sungguh tidak terlupakan. Terlebih lagi, liburan itu kujalani bersama keluarga. Tempat-tempat yang tidak pernah muncul di benak kami hingga ke tempat yang sangat ingin kami kunjungi semuanya kami lalui dengan penuh rasa syukur. Sunggu pengalaman yang sangat berharga. Aku harap kamu juga bisa memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat impianmu setelah COVID-19 berlalu, ya!

 

Nama Penulis: Kevin Christian Lalang

Instagram: www.instagram.com/ipihippie/

Twitter: www.twitter.com/ipihippie

Facebook: Kevin Christian Lalang

Press Enter To Begin Your Search
×