Loading...

Sumber: www.unsplash.com

Perjalanan saya awali dari Jakarta dengan tujuan Banyuwangi, destinasi utamanya yaitu Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran dan Pantai Pulo Merah. Singkat cerita saya menggunakan kereta api dari Jakarta tujuan Surabaya Gubeng. Setelah sampai Surabaya Gubeng saya langsung melanjutkan kembali naik kereta api tujuan stasiun Karangasem (waktu itu belum ganti nama). Sekitar subuh, saya sampai di Karangasem dan langsung menuju ke rumah saudara untuk istirahat sejenak sekaligus izin meminjam kendaraan roda dua.

Sekitar jam setengah 7 pagi, saya mulai perjalanan solo naik kendaraan roda dua menuju Pantai Pulo Merah. Sepanjang perjalanan, saya hanya mengandalkan papan petunjuk arah dan feeling saja, jika sudah bingung, baru bertanya ke masyarakat sekitar arah menuju pantai pulo merah. Akhirnya setelah 3 jam perjalanan dan beberapa kali bertanya sampai juga di pantai pulo merah. 

Kesan pertama sangat luar biasa indah pantainya. Pantai berpasir putih dengan ombak yang cukup besar membuat saya makin betah berlama-lama.

Setelah beberapa saat menikmati pantai pulo merah, secara mendadak penasaran dengan pantai di sebelah baratnya yaitu Pantai Mustika. Tidak berpikir panjang, akhirnya langsung menuju pantai mustika yang berjarak kurang lebih 4 Km. Setelah sampai di pantai mustika, kesan pertama pantainya bersih dan adem karena banyak pepohonan.

Pantainya tidak terlalu ramai tapi panoramanya tidak kalah cantik dengan pantai pulo merah. Setelah sedikit puas menikmati pantai mustika, saya berjalan ke arah barat lagi menuju tempat kampung nelayan pancer, panoramnya juga sangat indah di tambah dengan puluhan perayu nelayan yang sedang parkir di pantai tersebut.

Sebenarnya saya ada niatan untuk ke pantai Wedi Ireng, tetapi karena waktu yang kemungkinan tidak mencukupi dan saya butuh istirahat untuk esok hari ke kawah ijen, akhirnya ke pantai Wedi Ireng saya batalkan. Karena waktu hampir sore, maka saya putuskan untuk kembali ke Kota Banyuwangi.

Sepanjang perjalanan banyak ditemui arak-arakan hari kemerdekaan, sehingga sedikit menghambat laju kendaraan. Masih beruntung saya membawa kendaraan roda dua, jadi jika ada penutupan jalan saya masih bisa melintasi jalan tersebut karena jika membawa kendaraan roda 4 dipastikan memutar balik. Sekitar jam 7 malam saya sampai di kota Banyuwangi dan istirahat sambil berbincang-bincang dengan saudara.

Singkat cerita setelah sholat subuh saya langsung berangkat menuju Kawah Ijen dan tetap menggunakan kendaraan roda 2, tetapi kali ini beda jenis. Jika ke pantai naik motor matik, kali ini saya membawa motor bebek manual karena alasannya lebih aman jika membawa yang manual. Saya berjalan dengan santainya karena memang masih gelap dan saya hanya mengandalkan papan petunjuk arah.

Saya melewati daerah licin dengan kontur jalan yang lumayan bagus dan sesekali melewati hutan. Menjelang matahari bersinar saya memasuki hutan dengan jalan yang agak rusak dan konturnya menanjak sangat curam. Beberapa titik kondisi jalan memang harus membutuhkan kewaspadaan dan kehati-hatian. Tidak lama saya memasuki hutan kembali dan jarang bertemu  pengendara lain. Kontur jalan sudah sangat bagus di sini sampai Paltuding.

Singkat cerita sekitar jam 5.45 saya sampai di Paltuding dan langsung membeli tiket yang kebetulan lokasinya tidak jauh dengan parkir kendaraan. Tidak perlu waktu lama saya langsung memulai pendakian solo ke Kawah Ijen. Setelah saya lihat-lihat ternyata hanya saya sendiri yang melakukan pendakian, yang lainnya justru hendak turun.

Waktu itu sangat ramai sekali pengunjungnya, namun sedang turun semua. Trek menuju kawah lumayan lebar berupa tanah berpasir dengan kondisi jalan yang menanjak namun kadang landai. Jalan terus menanjak membuat kaki dan nafas butuh istirahat berkali-kali. Setelah hampir satu jam berjalan akhirnya sampai di pos tempat penimbangan belerang. Di sini saya hanya istirahat sebentar saja, itupun saya tidak duduk.

Setelah pos timbangan treknya berubah menjadi tanjakan yang kadang berundak dan kadang berbatu. Terus berjalan santai dan ditengah perjalanan bertemu rombongan keluarga yang juga hendak naik ke kawah ijen. Akhirnya saya bergabung dengan mereka sekaligus untuk mencari teman perjalanan.  Setelah 30 menit lebih berjalan, sampailah di kawah Ijen. Kesan pertama sangat luar biasa indahnya. Kawah ijen benar-benar panorama yang sulit digambarkan dengan kata-kata karena memang indahnya luar biasa indah.

Setelah cukup menikmati indahnya kawah ijen dan waktu juga terus berjalan semakin siang, saya memutuskan untuk kembali turun. Di perjalanan turun saya masih bimbang, apakah saya mau ke baluran atau ke Kawah Wurung? Akhirnya karena sesuatu dan lain hal saya memutuskan menuju ke Taman Nasional Baluran. Setelah saya sampai di bawah parkiran Ijen dan beristirahat sejenak saya langsung menuju baluran. Saya terus berjalan mengendarai roda dua dengan santai karena kondisi jalan menurun curam. Menjelang waktu duhur saya beristirahat sejenak di masjid sekitar pelabuhan ketapang keperluan ishoma dan mengisi daya handphone.

Setelah cukup istirahat saya lanjut kembali perjalananya menuju baluran. Kondisi jalan cukup ramai kala itu dan panorama sekitar jalan sangat bagus terutama di Watu Dodol. Jam 14.14 saya sampai di gerbang utama Taman Nasional Baluran. Saya langsung menuju loket dan di sini juga saya bertemu 2 orang yang kebetulan hendak ke masuk ke Taman Nasional Baluran. Perjalanan dimulai menuju savana bekol dengan kondisi jalan yang sangat rusak, karena jalanan rusak kekhawatiran pertama yaitu ban kendaraan kempes atau rusak.

Setelah perjalan sekitar 30 menit sampailah di Savana Bekol. Tidak menyia-nyiakan waktu langsung mengabadikan momen di sini bersama para pengunjung lainya. Setelah cukup mengabadikan momen terus di Savana bekol, lanjut lagi perjalanannya menuju pantai Bama. Tetapi diperjalanan beberapa kali mampir-mampir karena banyak sekali spot-spot yang menarik.

Jalan semakin rusak dengan kondisi batu-batu besar berantakan untuk menunju ke pantai bama. Melewati Savana Bama hanya berfoto sejenak di sini dan bertemu rombongan rusa yang sedang berlari-lari cantik di Savana. Tidak butuh lama, akhirnya sampailah di pantai Bama, yang sangat cantik sekali.

Pantai berpasir putih dengan ombak biru yang tenang sangat damai sekali rasanya. Karena saya mengejar waktu, khawatir terlalu sore, akhirnya setelah cukup mengabadikan keindahan pantai Bama, saya memutuskan kembali ke Banyuwangi. Dengan pelan-pelan saya menikmati goncangan-goncangan sepeda motor karena kondisi jalan yang sangat rusak. Ditengah perjalanan saya dikejutkan dengan seekor banteng yang tiba-tiba berlari dari rerimbunan pepohonan. Akhirnya jam 19.30 saya sampai di Karangasem dan langsung beres-beres karena mengejar jadwal keberangkatan kereta api menuju Surabaya. Jam 22.15 Saya kembali ke Jakarta dengan transit terlebih dahulu di Surabaya, karena tidak ada kereta api yang langsung menuju Jakarta.

 

Nama Penulis: Tikto Triyono

Instagram: www.instagram.com/kandalaska/

Facebook: Bagus Kandalaska

Press Enter To Begin Your Search
×