Loading...

danau maninjau

Foto: Shutterstock

Berwisata ke Sumatera Barat belum lengkap kalau nggak berkunjung ke Danau Maninjau. Danau ini merupakan wisata alam yang sangat populer di Sumatera Utara. Keindahan danau terpancar dari area sekelilingnya yang masih terjaga asri bahkan sering tertutup kabut. Kabut yang menyelimuti area danau disebabkan karena letak danau yang berada di ketinggian 161,5 mdpl.
 
Keindahan Danau Maninjau sangat mempesona banyak orang, bukan hal yang mengagetkan kalau danau sering dijadikan latar dalam sebuah karya sastra. Salah satu karya sastra paling terkenal yang menjadikan Danau Maninjau sebagai latar tempatnya yaitu novel karya Buya Hamka berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Di dalam novel tersebut Danau Maninjau menjadi saksi perpisahan tragis antara Zainudin dan Hayati.  

Pesona objek wisata Danau Maninjau punya beberapa asal-usul, ada yang secara ilmiah ada pula berdasarkan legenda yang dipercaya banyak orang. Simak, yuk. 

Sejarah Danau Maninjau

Letak Danau Maninjau tepatnya berada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Danau vulkanik ini memiliki ukuran yang cukup besar mencapai 100 km persegi dengan kedalaman rata-ratanya 105 meter. Ukurannya yang sangat besar membuat Danau Maninjau dinobatkan sebagai danau terbesar kesebelas di Indonesia. 

Sejarah Danau Maninjau bermula akibat erupsi Gunung Sitinjau yang diperkirakan terjadi pada 52.000 tahun yang lalu. Erupsi membentuk kaldera yang sangat luas lalu seiring waktu menjadi danau. Proses terbentuknya Danau Maninjau mirip dengan Danau Toba dan Danau Batur. 

Keindahan Danau Maninjau memang nggak perlu diragukan lagi. Namun untuk menikmati keindahan danau ini ada beberapa spot terbaik yaitu di kelok 44. Di area inilah pemandangan Danau Maninjau terlihat sangat sempurna. Hamparan sawah di sekeliling danau juga dapat terlihat jelas. 

Legenda Danau Maninjau, Bujang Sembilan

danau maninjau

Foto: Shutterstock

Tidak jauh berbeda dengan kebanyakan panorama alam di Indonesia yang memiliki legenda di baliknya, Danau Maninjau juga dikisahkan dalam legenda Bujang Sembilan. 
Legenda ini bermula di sekitar Gunung Tinjau. Di puncak gunung ini terdapat kawah luas dan di kaki gunungnya terdapat perkampungan penduduk, Mereka hidup rukun dan sejahtera dan rajin bertani karena tanah di sana sangat subur. 

Di desa itu tinggal lah 10 orang bersaudara yang terdiri dari 9 laki-laki dan 1 perempuan. Mereka biasa dipanggil bujang sembilan. Kakak laki-laki tertua bernama Kukuban dan adiknya yang paling bungsu seorang perempuan cantik bernama Sani. 

Karena orang tua mereka sudah meninggal, mereka tinggal di rumah pamannya yang bernama Datuk Limbatang. Datuk Limbatang memiliki anak lelaki bernama Giran. Lambat laun Giran jatuh cinta dengan Sani. Sani juga merasakan hal yang sama kepada Giran. 

Mereka memutuskan untuk menikah namun Kukuban tidak setuju lantaran ia menyimpan dendam kepada Giran. Akhirnya Sani dan Giran harus menjalani hubungan dengan sembunyi-sembunyi. 

Suatu waktu Kukuban memergoki Sani dan Giran sedang bersama dan ia menuduh mereka telah melakuka perbuatan yang tidak pantas. Warga terhasut ucapan Kukuban dan akhirnya menghukum Sani dan Giran dengan hukum adat. 

Mereka dilempar ke kawah Gunung Tinjau. Sebelum masuk ke kawah Giran bersumpah, apabila ia benar bersalah maka biarkan tubuhnya hancur tapi apabila ia tidak bersalah ubahlah Bujang Sembilan menjadi ikan. 

Akhirnya Giran dan Sani melompat ke kawah dan setelah itu terjadi letusan gunung yang sangat dahsyat. Dari letusan gunung itulah tercipta Danau Maninjau. 

Seru ya asal-usul Danau Maninjau. Buat yang penasaran dengan keindahan danau ini mending langsung aja ke Agam, Sumatera Barat. Cari hotel di Danau Maninjau agar kamu bisa langsung menikmati keindahannya. Kamu bisa temukan hotel tersebut di aplikasi RedDoorz. Download aplikasi RedDoorz dan langsung booking hotel dekat Danau Maninjau! 

Press Enter To Begin Your Search
×